Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Ini yang dilakukan Presiden Soeharto saat ibu negara dihina

Seorang mahasiswa asal Palembang ditangkap polisi gara-gara menghina Ibu Negara Iriana Jokowi di intagram. Dia mengunggah foto Iriana disertai kata-kata yang tak pantas. Tak butuh waktu lama, Dodik Ihwanto pemilik akun Instagram @warga_biasa langsung diciduk.

Fenomena menghina kepala negara di media sosial terjadi di media sosial. Polisi telah menangkap beberapa orang yang diduga terlibat jaringan penyebar kebencian di media sosial.

Dulu di zaman Orde Baru, mana berani masyarakat menghina kepala negara atau keluarga Cendana. Berbicara pun selalu bisik-bisik takut terdengar aparat.

Walau begitu ada juga beberapa hal yang kemudian jadi perbincangan santer dan beredar di masyarakat. Misalnya soal Presiden Soeharto punya selir bintang filem terkenal saat itu. Atau memelesetkan nama Ibu Tien Soeharto menjadi Mrs Tien Percents, atau nyonya 10 persen. Isunya saat itu Ibu Tien dan koleganya kerap meminta jatah 10 persen dari proyek-proyek besar.

Menjelang tahun 1980, kritik pada pemerintahan Orde Baru makin kencang. Terutama yang diserang adalah isu soal hak berbicara dan korupsi di lingkaran penguasa.

Apa sikap Presiden Soeharto menghadapi kritik dan isu seperti ini?

Pak Harto akhirnya memberikan jawaban. Dia pilih momen dengan pesan simbolis dan kuat: Hari Ulang Tahun Kopassandha (sekarang Kopassus) ke-28. 

Hari itu, 16 April 1980, Pak Harto berpidato di Markas Kopassandha, Cijantung. Pak Harto kembali menekankan isi pidato seperti pada Rapim ABRI sebulan sebelumnya, yaitu soal setia pada Pancasila. 

"Ancaman kekuatan senjata harus kita hadapi dengan kekuatan senjata pula yang kita miliki. Akan tetapi kita mengetahui bahwa ancaman ideologi Pancasila tidak semata-mata dari kekuatan senjata," ujar Pak Harto. Dia menyebut adanya upaya untuk mengubah dan mengganti dasar negara Pancasila. 

Berikutnya, isi pidato Pak Harto makin blak-blakan. Dia memaparkan pihak-pihak yang mencoba mengganti Pancasila diawali dengan mendiskreditkan pemerintah dan dirinya sebagai presiden.

"Saya bertemu dengan kolega saya Kusno Utomo, yang telah mendengar isu-isu yang sebetulnya tidak pada tempatnya yang ditujukan kepada saya, juga kepada istri saya Bu Harto. Selalu diisukan bahwa istri Soeharto menerima komisi. Menentukan pemenangan tender dan komisi dan lain sebagainya. Yang sebenarnya tidak terjadi sama sekali keadaan demikian," bantah Pak Harto.

Pak Harto tidak berhenti di situ. "Dan bahkan akhir-akhir ini sampai juga ditujukan kepada saya, yang sudah diisukan di kalangan mahasiswa dan juga di kalangan ibu-ibu yang biasa mudah untuk sampai ke mana-mana. Satu isu kalau saya ini katanya mempunyai "selir", mempunyai simpanan salah satu dari bintang film yang terkenal yang dinamakan Rahayu Effendi. Ini sudah lama bahkan sekarang ini juga dibangkitkan hal itu kembali. Padahal kenal, berjumpa saja tidak," ujar Pak Harto dalam transkrip lengkap pidato yang dimuat di Memori Jenderal Yoga terbitan PT Bina Rena Pariwara karangan B Wiwoho dan Banjar Chaerudin. 

"Apa ini semua maksudnya? Maksudnya adalah tidak lain karena mungkin mereka itu menilai kalau saya itu menjadi penghalang utama dari kegiatan politik mereka itu. Karena itu harus ditiadakan," kata Pak Harto. Poin berikutnya Pak Harto menyebut kalaupun berhasil meniadakan dirinya, maka masih ada ABRI dan Kopassandha yang akan membentengi upaya mengganti Pancasila dan UUD 1945.

Pasca pidato Pak Harto itu, suasana politik bukannya mereda. Tapi justru makin panas. Pidato Pak Harto memicu munculnya Petisi 50 yang dimotori antara lain oleh Gubernur legendaris DKI Jakarta Ali Sadikin dan mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Ada juga para jenderal pendiri Orde Baru yang kini berbalik menyerang Soeharto seperti HR Dharsono, M Jasin dan Kemal Idris.

Pada ungkapan keprihatinan Petisi 50 yang dikeluarkan 5 Mei 1980, salah satu poinnya adalah keprihatinan terhadap pidato Pak Harto yang mereka sebut keliru menafsirkan Pancasila sehingga dapat digunakan sebagai suatu ancaman terhadap lawan-lawan politik. Padahal, Pancasila dimaksudkan oleh para pendiri Republik Indonesia sebagai alat pemersatu Bangsa.

Para tokoh Petisi 50 ini dianggap sebagai persona nongrata. Mereka dilarang pergi ke luar negeri, mengajukan kredit dari bank, dimata-matai, hingga tak boleh berbicara pada pers dan tampil di depan massa.
Read More

Terakhir Kali Ngamuk pada 1963, Gunung Agung Meletus Hampir Setahun

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jumlah pengungsi di sekitar Gunung Agung, Bali, terus bertambah.

Berdasarkan catatan sementara, jumlah pengungsi akibat adanya aktivitas vulkanik di gunung tersebut mencapai 1.259 orang.

"Jumlah pengungsi terus bertambah, mengingat belum semua data dilaporkan ke Pusdalops BPBD Bali," ujar Sutopo dalam keterangan tertulis, Kamis (21/9/2017‎).

Menurut Sutopo, masyarakat sudah berinisiatif mengungsi meski belum ada perintah untuk mengungsi dari pejabat berwenang. ‎

Sebagian besar masyarakat mengungsi karena pengalaman masa lalu, saat Gunung Agung meletus tahun 1963. Gempa vulkanik yang sering terjadi saat ini mirip dengan kejadian sebelum Gunung Agung meletus tahun 1963.

"Letusan saat itu berlangsung hampir selama setahun, yaitu 18/2/1963 hingga 27/1/1964. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka," ungkapnya.

Menurut Sutopo, ‎tidak mudah menangani pengungsi. Apalagi, pengungsi akibat erupsi gunung api yang jumlahnya besar, dan tidak diketahui lama waktu pengungsiannya.

Sutopo mengatakan, ‎saat ini sudah banyak tenda pengungsi didirikan di sekitar Gunung Agung. Namun, umumnya mengungsi di tenda tidak nyaman, karena panas. Dan jika terjadi erupsi disertai hujan abu dan pasir, tenda dapat roboh seperti saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010.

Banjar atau balai desa adalah tempat pengungsian yang lebih nyaman. Begitu juga mengungsi di kerabat atau desa sekitarnya.

"BNPB telah menyarankan agar dicari desa-desa di sekitarnya yang aman dan bisa menampung pengungsi. Model ini dikenal sister village seperti yang banyak dikembangkan di sekitar Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta," tuturnya.

Sutopo mengimbau masyarakat tetap tenang. Pemerintah dan pemda bersama unsur lainnya pasti akan melindungi masyarakat. Saat ini masih terus disiapkan sarana dan prasarana di pos pengungsian. Prioritas pengungsian adalah kelompok rentan, yaitu balita, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas. 
Read More

Potensi Gunung Agung Meletus Makin Tinggi, Siapkan Hal Ini Untuk Antisipasi Hal Buruk!

Gunung Agung terus menunjukkan peningkatan aktivitas sejak statusnya berubah menjadi Siaga (Level III) pada 18 September lalu.

Bahkan informasi terkini disebutkan bahwa magma sudah naik ke permukaan. Magma sendiri adalah cairan ultra panas yang berada di kawah gunung.

Tak hanya itu, gempa vulkanik dalam dan dangkal pun terus terjadi. Pemukiman warga di lereng gunung tertinggi di Bali ini pun terancam.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Sutopo Purwo Nugroho pun mengatakan adanya peningkatan aktivitas yang tinggi.

“Ada proses pergerakan magma yang mendorong permukaan dan meruntuhkan batuan yang menyumbatnya di jarak 5 kilometer di bawah permukaan bumi. Namun status Gunung Agung belum berubah, masih Siaga (Level III),” ujar Sutopo melalui pesan WhatsApp yang diterima di Denpasar, Kamis (21/9/2017).

Diprediksi frekuensi gempa akan terus mengalami peningkatan hingga ke depan.

Dari hasil pemantauan, pergerakan magma sudah terjadi di sekitar jarak 5 kilometer di bawah permukaan laut .

Tenda untuk pengungsi akibat erupsi Gunung Agung telah berdiri di pos pengungsian di Kabupaten Buleleng, Bali, Kamis (21/9/2017) siang.

Tenda untuk pengungsi akibat erupsi Gunung Agung telah berdiri di pos pengungsian di Kabupaten Buleleng, Bali, Kamis (21/9/2017) siang. (Repro/KompasTV)

Disebutkan pula bahwa dalam energi gunung berapi terkandung uap dan gas yang berfungsi mendobrak material yang berada di atasnya.

Untuk hal ini petugas hanya bisa membaca tanda-tanda namun tidak bisa menebak secara pasti kapan akan terjadi dobrakan atau letusan.

Energi yang dihasilkan dari aktivitas magma di bawah permukaan Gunung Agung demikian besar.

Itu bisa diprediksi dari jarak waktu letusan yang cukup lama, yakni selang 54 tahun dari waktu terjadinya letusan terakhir pada tahun 1963.

Setelah mengetahui hal ini, penduduk di lereng gunung atau yang berada di zona bahaya pun kini diimbau untuk segera mengungsi untuk mengantisipasi hal buruk.

Adapun persiapan tambahan yang perlu dilakukan masing-masing individu atau warga yang tinggal di sekitar Gunung Agung.

Tribun Bali melansir dari berbagai sumber tentang apa saja peralatan yang dibutuhkan untuk menghadapi gunung meletus. Sebelum Gunung Api Meletus

1. Kenali tanda-tanda, karakter dan ancamannya
2. Ajak keluarga, masyarakat untuk menghindari daerah berbahaya, seperti lereng gunung, lembah, bantaran sungai (tukad) dan kawasan lain yang mungkin dialiri lahar.
3. Mengetahui peta jalur pengungsian yang telah tersedia kebutuhan dasar (air, tempat tidur, mck, dapur umum) dan lain sebagainya.
Read More

Kisah Tahanan Kabur ke Orang Pintar Untuk Kelabui Polisi, Nyawanya Berakhir di Kuburan Manggala

Polisi telah menangkap empat dari delapan orang tahanan narkoba Rutan Polres Metro Jakarta Barat yang kabur.

Keempat tahanan yang telah ditangkap kembali tersebut adalah Yocke Arya Winta, Bagas Fathiong Ramadhan, Yudi Rohmansyah, dan Franco Graizani Julizar.

Dalam pengembangan, Yudi dan Franco tewas ditembak karena berusaha melukai polisi.

"Perlu disampaikan bahwa Yudi sebagai otaknya pelaku yang melakukan perencaaan melarikan diri, dia membujuk tahanan lain untuk melarikan diri, dia kasus narkoba tahun 2013," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Minggu (17/9/2017).

Sebelum keduanya ditangkap menurut Argo, Yudi sempat menghubungi orang pintar atau paranormal untuk mengelabui petugas yang mengejarnya. Namun keduanya bisa ditangkap di Pemakaman Manggala, Bekasi, Jawa Barat.

"Jadi pelaku ini sempat datang ke orang pintar, biar polisi yang mencarinya tidak dapat menemukan mereka saat kabur, namun keduanya justru kami tangkap di kuburan," katanya.

Setelah penangkapan, dilakukan pengembangan untuk menunjukan persembunyian tersangka lainnya.

YR mengarahkan ke daerah Medan Satria Bekasi dan pada saat menunjukan lokasi persembunyian AB di Jl Harapan Indah Bolevard, Medan Satria, Bekasi.

Namun justru YR mengambil senjata api rakitan yang diduga sebelumnya sudah dipersiapkan di dalam bangunan gardu listrik. Polisi lebih sigap dan menembaknya hingga tewas.

Disaat itu secara bersamaan FG juga berusaha merebut senjata polisi namun gagal dan akhirnya tewas ditembak.

"FG ini adalah residivis 365 jadi ia mempunyai insting melarikan diri dengan cara merebut senjata anggota dan kita lakukan tindakan terukur. Namun kehabisan darah saat kami bawa ke Rumah Sakit," ucap Argo.

Dalam penangkapan tersebut, Tim Sat Reskrim dan Sat Resnarkoba menyita sepucuk senjata api rakitan.

Adapun tersangka yang masih dikejar tim gabungan Polres Metro Jakarta Barat adalah RL, KN, TG dan AB.

"Kepada tersangka yang melarikan diri saat ini saya sampaikan untuk menyerahkan diri," kata Argo. (Joko Supriyanto)
Read More

Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba, masih tega nonton?

Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
Ada fakta mengerikan di balik pertunjukkan lumba-lumba yang menghibur.

Pernah anda melihat pertunjukan lumba-lumba di beberapa wahana wisata? Atau setidaknya melihat di televisi atau mendengar cerita dari teman lain. Tentunya aksi atau cerita tentang sirkus lumba-lumba menyenangkan, karena terhibur dengan aksi pintar, lucu, penurut dari hewan yang disebut sahabat manusia. Namun, di balik aksi pintarnya itu ada fakta mengerikan. 

Berikut rangkum dari berbagai sumber di media sosial, Selasa (3/11), 10 fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba, yang akan membuatmu tidak tega dan tidak ingin menonton sirkus lumba-lumba:
1. Diangkut dengan wadah yang sangat menyiksa
Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
2. Dipindah tempatkan layaknya benda mati
3. Dipindahkan dengan dijaring
4. Betapa bisingnya kehidupan mereka dengan sorakkan-sorakan manusia dan sound system setiap harinya
Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
5. Dilatih dengan kekerasan, lumba-lumba dipaksa dan disakiti jika tidak menurut
Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
6. Karena hidup bukan di habitat aslinya dan mendapatkan perlakuan tidak layak, usia mereka lebih pendek
7. Bayangkan saja jika anda diculik lalu dipisahkan dari keluarga, ditempatkan di tempat asing dan tidak tau jalan pulang, apa anda tidak sedih?
8. Pantas saja lumba-lumba selalu menurut, ternyata mereka dilaparkan dulu dan juga air yang digunakan membahayakan kehidupan mereka
 
9. Buat para orang tua bacalah ini
Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
10. Harus berapa lagi lumba-lumba yang mati karena perlakuan keras kepada mereka?
Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
11. Lumba-lumba sirkus tampil indah? Tidak! mereka tersiksa tapi tak tau kemana dan bagaimana harus pulang
Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
12. Biarkanlah lumba-lumba hidup dialamnya sendiri dan jangan diganggu
Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
13. Lumba-lumba sirkus dieksploitasi habis-habisan
Fakta mengerikan di balik sirkus lumba-lumba
14. Dan taukah anda? Kejahatan terhadap lumba-lumba ini hanya terjadi di INDONESIA.
Bagaimana perasaan anda setelah melihat fakta-fakta di balik sirkus lumba-lumba? Apa anda masih tega menyaksikan aksi sirkus lumba-lumba?
Read More

Menteri Budi Karya Beberkan Alasannya Kenakan Pakaian Adat Saat Acara Hari Perhubungan Nasional

Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi membeberkan alasan dirinya mengenakan pakaian adat dalam acara puncak Hari Perhubungan Nasional.
Sejumlah petinggi Kementerian Perhubungan juga mengenakan pakaian adat dalam acara tersebut.
Budi Karya menjelaskan pakaian adat itu merupakan bentuk konektivitas antara kementerian yang dipimpinnya, dengan berbagai daerah di tanah air.

"(Pakaian ini bentuk) konektivitas itu terdiri dari berbagai daerah (di Indonesia)," ujar Budi Karya, saat ditemui di Monas bagian Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (17/9/2017).
Karena mengedepankan sisi konektivitas itulah, mantan Direktur Utama PT Angkasa Pura II itu kemudian meminta seluruh bawahannya mengingat berbagai daerah yang harus mereka layani.
"Maka hari ini saya minta pada semua agar ingat daerah-daerah yang harus kita layani," jelas Budi Karya.
Lebih lanjut, ia menegaskan cara yang bisa ia gunakan agar selalu mengingat tanggung jawab Kemenhub terhadap daerah-daerah di Indonesia yakni melalui cara penggunaan pakaian adat.

"Oleh karenanya, kita hari ini membuat (acara untuk) mengingat kebhinekaan, dari (cara) kita menggunakan pakaian hari ini," kata Budi Karya.
Acara yang dimulai pada pukul 16.30 WIB tersebut sedianya akan digelah hingga malam ini dengan beragam suguhan agenda menarik, satu diantaranya adalah pemutaran film yang berkaitan dengan layanan dan petugas Kementerian Perhubungan.
Budi Karya pun dijadwalkan akan tampil bermain gitar pada malam ini.
Read More

Kisah Fahmi Si Hafiz Alquran yang Kini Dipenjara karena Bendera

Nurul Fahmi (26) dipenjara karena membawa bendera Merah Putih bertuliskan huruf Arab. Fahmi diketahui sebagai penghafal (hafiz) Alquran yang baru saja memiliki seorang anak berumur 12 hari.

Fahmi ditangkap dan kini ditahan di Mapolres Jakarta Selatan. Novel Bamukmin, yang menjadi salah satu kuasa hukum Fahmi dari Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), berbagi cerita soal kliennya. Ia mengaku mengunjungi keluarga Fahmi di bilangan Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (22/1/2017).

"Saya berkunjung ke rumah orang tua dan istri Bang Nurul Fahmi (NF) untuk sekadar memberi dukungan moril. Bang Fahmi telah merampungkan program tahfiz Quran di Masjid Qiblatain, Arab Saudi. Ya, dia seorang hafiz Quran," ungkap Novel saat berbincang dengan detikcom, Minggu (22/1) malam.

Novel membenarkan Fahmi memang selalu ikut Aksi Bela Islam. Termasuk aksi demo FPI di Mabes Polri pada Senin (16/1) lalu. Novel juga mengungkap istri Fahmi baru saja melahirkan. 

"Dia tidak pernah absen sekali pun dalam aksi-aksi bela Islam ini. Karena dia memang mencintai Alquran. Mencintai Islam. Bang Fahmi baru punya anak 12 hari," kata Sekjen Dewan Syuro DPD FPI DKI itu.

"Sang ibu mengantar kami menuju kediaman mertua Bang Fahmi, tempat sementara di mana istri dan anak Bang Fahmi yang baru lahir tinggal. Ya, 8 Januari lalu, Hafidza Nur Qaila, baru saja dilahirkan," sambung Novel.

Menurutnya, Fahmi merupakan lulusan STM yang biasa bekerja di perusahaan-perusahaan. Namun belakangan, kata Novel, Fahmi baru saja mendapat pekerjaan sebagai guru hafiz Alquran di sebuah sekolah alam.

"Baru dapat kerjaan di sekolah alam sebagai guru tahfiz dan rencananya akan aktif mengajar Senin besok. Maka istrinya syok karena suami dipenjara. Suaminya orang baik, rajin ibadah, cinta ulama, cinta Islam, cinta kaligrafi," paparnya.

Novel menyatakan Fahmi juga kerap menggelar kegiatan keagamaan di lingkungan rumahnya. Fahmi disebutnya merupakan pencinta kaligrafi dan sudah beberapa kali mencetak tulisan Arab di atas bendera, tak hanya bendera Merah Putih.

"Ibunya menuturkan bahwa Bang Fahmi bercerita kalau sepulang long march dia merasa ada orang-orang yang memfotonya. Tapi dia tak berpikir macam-macam," ujar Novel.

"Keesokan harinya, mulailah sosmed dihebohkan oleh berita bahwa Kapolri akan mengusut pelecehan bendera Merah Putih yang dituliskan bahasa Arab. Bang Fahmi pun kaget. Sebab, dia benar-benar baru tahu bahwa ada pasal terkait dengan hal itu. Dia murni melakukan hal itu karena ketidaktahuannya dengan pasal tersebut," tambah dia.

Novel menilai keputusan Fahmi membawa bendera Merah Putih dengan tulisan Arab adalah wajar. Sebab, hal tersebut bukanlah pertama kali. 

"Telah begitu banyak bendera Merah Putih yang diukirkan gambar dan tulisan oleh berbagai oknum dan itu tidak pernah dipermasalahkan, apalagi sampai dipolisikan," ucap Novel.

"Kemudian Bang Fahmi pun mengabari ibunya tentang berita tersebut dan menghubungkannya dengan peristiwa sepulang long march saat dia merasa ada orang-orang yang memfoto dirinya," imbuh dia.

Fahmi, menurut Novel, sudah berkonsultasi soal masalah bendera yang dibawanya dan menjadi viral itu kepada Ustaz Munawir. Dia diberi saran untuk meminta bantuan LBH. Fahmi pun berencana meminta bantuan pada Jumat (20/1) dan pada Kamis (19/1) memutuskan menginap di rumah kakaknya yang berada di Cilandak, Jakarta Selatan. 

"Saat itu dia mulai merasa bahwa ada orang-orang yang mengikutinya. Tapi dia tetap tenang. Dini hari, pukul 01.00, polisi datang menggerebek rumah itu dan menangkap Bang Fahmi. Dari penuturan sang ibu, jumlah polisi itu 23 orang," urai Novel.

Pihak keluarga menyatakan ada banyak kuasa hukum yang menawarkan bantuan secara sukarela untuk Fahmi. Setidaknya, menurut Novel, ada 20 orang yang ingin menjadi pengacara Fahmi hingga akhirnya diputuskan dibuatlah tim.

"Saya termasuk pengacaranya. Saya menangani sendiri. Dia dari Jumat pagi jam 10.00 WIB sampai jam 04.00 WIB dini hari diperiksa saya mendampingi," aku dia.

Fahmi dijerat dengan Pasal 66 juncto 24 subsider Pasal 67 Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.
Read More

Polisi telusuri peran Asma Dewi, antara pemesan atau donatur Saracen

Polisi telusuri peran Asma Dewi, antara pemesan atau donatur Saracen
Polisi baru saja menangkap Asma Dewi yang diduga terkait kelompok atau jaringan penebar ujaran kebencian dan Konten SARA, Saracen. Dewi ditangkap polisi pada Jumat (8/9) di Komplek Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKSI), Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, polisi akan menelusuri uang Rp 75 juta yang dikirim Asma Dewi ke Saracen.

"Kan kita enggak tahu dia nyari order kemudian dikirim atau dia yang order, belum tahu. Apa salah satu kaki tangan yang mengambil itu. Karena kan aliran dananya diinfokan dari dia, ke siapa, terus diserahkan lagi ke siapa," kata Setyo di Kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/9).

Polisi masih menggali keterangan dari Dewi. Polisi belum bisa memastikan status Dewi sebagai pemesan ujaran kebencian atau hanya sebagai donatur untuk kelompok Saracen.

"Masih didalami. Yang jelas, aliran dananya ada. Dia kan baru ditangkap kemarin. kita liat apakah terlibat dalam itu," ujarnya.

Polisi kembali menangkap satu orang yang diduga terlibat dalam kelompok Saracen atau ujaran kebencian dan Konten SARA. Orang itu diketahui bernama Asma Dewi yang berasal dari Sulawesi Utara.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, Dewi ditangkap di Komplek Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKRI), usai penyidik melakukan pendalaman dan menemukan adanya aliran dana dari Dewi ke anggota inti Saracen berinisial NS.

"Penyidik sementara dapat info yang bersangkutan transfer uang senilai Rp 75 juta ke NS," kata Setyo di PTIK, Jakarta Selatan, Senin (11/9).

Usai NS mendapatkan dana dari Dewi, uang tersebut langsung digunakan untuk membayar ke seseorang yang berinisial D. Dalam catatan pemindahan bank, tertulis atau disebutkan bahwa dana tersebut untuk membayar Saracen.

"Kemudian D transfer ke R, ini yang merupakan bendahara Saracen," ujarnya.

Sampai saat ini, polisi masih terus melakukan pendalaman terkait aliran dana yang diberikan oleh Dewi terhadap anggota Saracen tersebut.

"Untuk pembuktian lebih lanjut Dittipidsiber sedang kerja sama dengan PPATK karena ini menyangkut transaksi keuangan bank," ucapnya.

Polisi juga sedang melakukan pengejaran dan penyelidikan terhadap NS dan beberapa orang lainnya yang diduga ikut terlibat dalam Saracen.

Dari hasil penangkapan, polisi telah menyita beberapa barang bukti dari Dewi yaitu dua unit device dan postingan berbau SARA.
Read More

Asma Dewi ditangkap polisi, Alumni 212 rapatkan barisan beri dukungan

referensikitakita
Mantan Wakil Bendahara Presidium Alumni 212 Asma Dewi ditangkap oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jumat (8/9). Dia ditangkap atas dugaan mengunggah konten ujaran kebencian dan penghinaan agama dan ras tertentu.

Berdasarkan pengembangan kepolisian, Asma Dewi diduga pula pernah mentransfer uang sebesar Rp 75 juta ke pengurus inti kelompok Saracen. 

Usai ditangkap polisi, beredar poster dengan tulisan 'Ayo, Alumni 212 bantu, besuk dan bela Asma Dewi'. Dalam poster tersebut, memuat foto Asma Dewi dan Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Ma'arif. Saat dikonfirmasi merdeka.com, Slamet membenarkan bahwa alumni 212 akan memberikan dukungan terhadap Asma Dewi.

"Ya kan beliau ditahan, kita beri dukungan, beri support untuk beliau. Ya, minimal kan besuk dia. Apalagi ini musibah minimal bantu doa," kata Slamet kepada merdeka.com, Selasa (12/9).

Meski demikian, Slamet mengatakan dirinya dan alumni 212 belum berencana dalam waktu dekat untuk menggelar aksi turun ke jalan sebagai bentuk dukungan ke Asma Dewi.

"Belum ya. Karena masih fokus bantu Rohingya," ujarnya.

Sementara itu, Slamet mengaku tidak mengetahui secara detail kasus yang menjerat Asma Dewi tersebut. Dia mengaku belum melakukan komunikasi dengan kuasa hukum yang bersangkutan, yaitu Lembaga Bantuan Hukum Kebangkitan Jawara dan Pengacara (LBH Bang Japar). 

Dia juga mengaku tidak mengetahui terkait dugaan transfer Rp 75 juta dari Asma Dewi ke kelompok Saracen yang telah diciduk akibat menyebarkan ujaran kebencian dan konten berbau SARA di media sosial.

"Saya belum bertemu dengan penasehat hukum beliau, kasus apa. Saya belum tahu persis," ujarnya.

Asma Dewi ditangkap polisi pada Jumat (8/9) di Komplek Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKSI), Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, polisi akan menelusuri uang Rp 75 juta yang dikirim Asma Dewi ke Saracen.

"Kan kita enggak tahu dia nyari order kemudian dikirim atau dia yang order, belum tahu. Apa salah satu kaki tangan yang mengambil itu. Karena kan aliran dananya diinfokan dari dia, ke siapa, terus diserahkan lagi ke siapa," kata Setyo di Kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/9).

Polisi masih menggali keterangan dari Dewi. Polisi belum bisa memastikan status Dewi sebagai pemesan ujaran kebencian atau hanya sebagai donatur untuk kelompok Saracen.

"Masih didalami. Yang jelas, aliran dananya ada. Dia kan baru ditangkap kemarin. kita liat apakah terlibat dalam itu," ujarnya.
Read More

Sosok Asma Dewi, pernah jabat wakil bendahara Presidium Alumni 212

Sosok Asma Dewi, pernah jabat wakil bendahara Presidium Alumni 212
REFERENSIKITAKITA
Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap Asma Dewi, Jumat (8/9). Awalnya, polisi menangkap Dewi karena mengunggah konten ujaran kebencian dan penghinaan agama dan ras tertentu.

Berdasarkan pengembangan kepolisian, Asma Dewi yang ditangkap di Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan tersebut diduga pula pernah mentransfer uang sebesar Rp 75 juta ke pengurus inti kelompok Saracen. 

Kelompok tersebut sebelumnya telah diciduk akibat menyebarkan ujaran kebencian dan konten berbau SARA di media sosial.

Ketua Presidium 212 Slamet Maarif menjelaskan Asma Dewi pernah menjabat sebagai wakil bendahara Presidium 212 di saat kepemimpinan Ustaz Ansufri Idrus Sambo.

"Dulu dia Presidium Ustaz Sambo. Kan masuk dalam struktur organisasi yang Presidium dulu. Iya yang saya dengar waktu itu dia (Asma Dewi) Wakil Bendahara,"
kata Slamet saat dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (12/9).

Slamet menjelaskan, usai Presidium 212 berganti kepemimpinan, Asma Dewi menjadi tak aktif dalam kelompok tersebut. Usai Ustaz Sambo tak lagi menjabat, Asma sudah jarang ikut dalam rapat mau pun pelbagai kegiatan dari kelompok yang merupakan peserta aksi Bela Islam tersebut. Oleh sebab itu, Slamet yang juga Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) ini mengaku tidak akrab dengan Asma Dewi.

Menurut Slamet, saat dirinya memimpin Presidium 212, sempat pula ingin mempertahankan Asma Dewi sebagai Wakil Bendahara. Namun, dikarenakan Asma Dewi tak aktif dalam pelbagai kegiatan, maka niat itu diurungkan.

"Pertama kita minta jadi wakil bendahara juga tapi waktu itu dia jalan enggak aktif, suka enggak hadir," ujar Slamet.

Asma Dewi memang tak begitu terkenal dibandingkan dengan nama-nama lain dalam aksi Bela Islam. Namun, namanya pernah mencuat dalam aksi Tamasya Al Maidah. Nama Asma Dewi tertulis dalam selebaran yang terkait kampanye mengawal pelaksanaan pemungutan suara Pilgub DKI. 

Terkait hubungan Asma Dewi dengan Tamasya Al Maidah, Slamet mengaku tidak mengetahuinya. "Saya enggak tahu. Yang kenal dekat Ustaz Sambo," tukasnya.

Dewi ditangkap polisi pada Jumat (8/9) di Komplek Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKSI), Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, polisi akan menelusuri uang Rp 75 juta yang dikirim Asma Dewi ke Saracen.

"Kan kita enggak tahu dia nyari order kemudian dikirim atau dia yang order, belum tahu. Apa salah satu kaki tangan yang mengambil itu. Karena kan aliran dananya diinfokan dari dia, ke siapa, terus diserahkan lagi ke siapa," kata Setyo di Kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/9).

Polisi masih menggali keterangan dari Dewi. Polisi belum bisa memastikan status Dewi sebagai pemesan ujaran kebencian atau hanya sebagai donatur untuk kelompok Saracen.

"Masih didalami. Yang jelas, aliran dananya ada. Dia kan baru ditangkap kemarin. kita liat apakah terlibat dalam itu," ujarnya.
Read More

Anggota TNI AD jadi bandar sabu sudah 2 kali terjerat kasus narkoba

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Wuryanto membenarkan bahwa ada anggota TNI-Angkatan Darat ditangkap polisi karena kasus penyalahgunaan narkoba. Tersangka, S yang berpangka Serda ditangkap oleh aparat Polres Metro Bekasi pada Kamis (24/8) dini hari.

"Betul tadi malam ada oknum TNI yang ditangkap karena penyalahgunaan narkoba," kata Wuryanto ketika dikonfirmasi wartawan, Kamis (24/8).

Sebetulnya, status Serda S, kata dia, dalam proses banding setelah hukuman dan pemecatan kasus serupa sebelumnya. Namun, ternyata yang bersangkutan kembali terlibat dalam kasus narkoba.

Berdasarkan informasi didapat, Serda S yang kini berdinas di Mabes TNI pernah ditangkap sebanyak dua kali. Diantaranya oleh aparat Narkoba dari Polresta Depok dan Polrestro Jakarta Timur. Penangkapan ini merupakan yang ketiga kalinya.

Dalam penangkapan oleh aparat Narkoba Polres Metro Bekasi, polisi menyita narkoba jenis sabu-sabu seberat 17,51 gram, dan tujuh butir ekstasi.

Sebelum menangkap Serda S, polisi menangkap lebih dulu Ahyat di Pom Bensin Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi. Dari tangan Ahyat polisi menyita narkoba 52,41 gram. Barang haram tersebut didapatkan dari Serda S.
Read More

Saat prajurit asal Papua hampir menangis dirangkul Jenderal Mulyono

Saat prajurit asal Papua hampir menangis dirangkul Jenderal Mulyono
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono melakukan kunjungan kerja di Timika, Papua, pekan lalu. Dia memberikan pengarahan kepada prajuritnya yang berada di seluruh Garnizun Timika bertempat di Mayonif 754/ENK. 

Kasad terlihat sangat dekat dengan para prajuritnya. Hal terlihat ketika usai memberi pengarahan, banyak prajuritnya yang bertanya dan menyampaikan uneg-unegnya kepada Kasad. Namun kebanyakan prajuritnya meminta diberi beberapa fasilitas untuk prajurit.

Jenderal berbintang Empat ini pun menjawab semua pertanyaan prajuritnya dengan bijak dan kebapakan. 

"Semua yang anda minta akan kami usahakan, tunggu saja, kami akan bangunkan fasilitas di semua satuan," ujar Jenderal Mulyono.

Bukan itu saja bahkan Kasad pun turun dan mendatangi anggotanya. Di luar dugaan, Jenderal Mulyono kemudian mendekati Prada Meril dan merangkulnya. Prajurit TNI asal Papua ini pun merasa haru atas perhatian atasannya. Apalagi dengan rendah hati Mulyono menyebut dirinya cuma pelayan bagi para prajuritnya.

"Saya ini cuma pelayan kalian. Kalian butuh apa saya kasih. Jadi jangan anggap Kasad lebih tinggi dari kalian semua. TNI AD besar bukan karena saya, tapi karena kalian semua," ujar Mulyono.

Disamping memberikan arahan kepada prajurit, Kasad juga berpesan kepada seluruh pimpinan satuan agar senantiasa meningkatkan pembinaan satuannya masing-masing dengan mengedepankan ketauladanan dan pengayom terhadap anggota yang dipimpin. 

"Sadari bahwa seorang pemimpin harus dekat dengan prajuritnya, sehingga mampu melihat prajurit dengan mata hatinya," jelas Kasad.

"Kekuatan seorang pemimpin terletak pada prajuritnya. Kehadiran seorang pemimpin harus dibutuhkan dan bukan ditakuti anak buahnya. Karenanya, jadikan dirimu bagian dari prajurit, dengan tidak menimbulkan jarak namun tetap taat pada hierarki," tegas Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Mulyono.

Bukan pertama kali Jenderal Mulyono merangkul prajurit TNI AD. Saat bertemu dengan Serka Muhammad Darwis dan Serda Suryono pun Kasad memberi hadiah dan merangkul mereka sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan pengabdian mereka.

Serka Darwis terkenal dengan aksinya menyeberangkan anak sekolah dengan tali sementara Serda Suryono memanjat tiang bendera untuk menyambung tali yang putus saat upacara bendera. Aksi keduanya viral di media sosial dan mendapat apresiasi positif dari masyarakat.
Read More

Komandan ini terjun langsung lewati tebing & rimba demi cek batas NKRI

Komandan ini terjun langsung lewati tebing & rimba demi cek batas NKRI
Biasanya tugas memantau patok tugu batas negara paling hanya dipimpin oleh komandan pos berpangkat sersan atau letnan dua. Namun kali ini Dansatgas Yonif 410/Alugoro Letkol Inf M Heri Amrulloh memimpin langsung kegiatan patroli Tugu Batas Negara RI-PNG MM4.2 di wilayah Yabanda, Distrik Yafi, Kab Keerom. 

Dansatgas didampingi Perwira Topografi Satgas Lettu Ctp Suyitno serta Danki C Lettu Inf S Saeful beserta beberapa personel jajaran Kompi C.

Pasukan ini berangkat dari Pos Yabanda hari Rabu 23 Agustus 2017 pkl 06.00 WIT. Diperkirakan akan memakan waktu 4 hari 3 malam dengan membawa logistik untuk keperluan 5 hari sebagai cadangan. 

Tetapi di luar dugaan, perjalanan patroli yang dipimpin Dansatgas mampu mencapainya dalam waktu 3 hari 2 malam. Ini hal yang luar biasa, perjalanan bisa dipersingkat dengan medan yang sangat berat dan sulit dilalui.

Untuk mencapai ke sasaran Tugu Batas Negara MM4.2 dari Pos Yabanda menggunakan kendaraan truk sampai di ujung jalan tanah. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri dan membelah lebatnya hutan belantara, naik dan turun gunung. Mereka juga harus menyusuri lereng dan bukit yang terjal serta harus menyeberangi beberapa sungai besar dan kecil. 

Terkadang pasukan harus meniti atau melompati bahkan merangkak di bawah pepohonan besar dan kecil yang tumbang serta menghalangi perjalanan tim patroli.

Rasa lelah dan capai bisa terobati setelah anggota tim patroli sampai di sasaran dan menemukan kondisi tugu batas Negara MM4.2. masih dalam keadaan terawat serta masih dalam posisi yang sebenarnya tanpa terjadi pergeseran dari kedudukannya.

Keinginan Dansatgas untuk memimpin langsung kegiatan patroli tugu batas negara sudah lama sekali, karena kesibukan baru kali ini bisa terlaksana. 

"Sudah lama merencanakan kegiatan ini. Saya juga ingin merasakan apa yang dirasakan anak buah saya terutama jajaran pos atas. Bagi saya sebagai seorang Komandan, tempat yang terbaik selalu berada di tengah-tengah anak buah, dalam situasi dan kondisi apapun " kata Dansatgas disela-sela kegiatan patroli.

Sedangkan pendapat beberapa orang anggota Satgas yang terlibat dalam patroli ini sangat bervariasi. 

"Saya sudah berulang kali tugas operasi, tapi baru kali ini selama saya jadi tentara, patroli di pimpin langsung Komandan (Dansatgas). Moril kami jadi tinggi. Lagi pula malulah kalau sampai di belakang (tidak boleh kalah fisiknya) Komandan" kata Kopral Arif Rahman yang mempunyai banyak pengalaman bertugas.

Lain halnya dengan Prada Rizky yang baru pertamakali bertugas operasi. "Izin, ini patroli (kegiatan) yang kedua. Ini suasana baru, tambah semangat," kata Pratu Rizky penuh semangat.

Kegiatan patroli tugu batas Negara selesai dan tim kembali ke Pos Yabanda pada hari Jumat 25 Agustus 2017 sekitar pukul 15.00 WIT dalam keadaan aman.
Read More

Presiden Jokowi Lepas 10 Kontainer Bantuan Indonesia untuk Rohingya

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengutus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, berkomunikasi dengan Pemerintah Myanmar soal keberadaan komunitas Muslim Rohingya.
Melalui Retno, Presiden Jokowi menyampaikan pesan penting kepada Pemerintah Myanmar soal bagaimana memanusiakan warga Rohingya di Rakhine State.
"Pada 6 Desember 2016 saya telah mengutus Menlu Retno untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Myanmar Aung San Suu Kyi, menyampaikan pesan penting," ujar Jokowi saat melepas paket bantuan untuk Rohingya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (29/12/2016).
Ada tiga pesan penting yang disampaikan. Pertama, pemerintah Indonesia menegaskan soal pentingnya membuka akses bantuan kemanusiaan ke Rakhine State.
"Segera diciptakan stabilitas dan perdamaian di Rakhine State dan menegaskan perlunya perlindungan serta penghormatan hak asasi manusia, utamanya bagi komunitas Muslim," ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan, pesan tersebut terus diulang. Salah satunya saat Presiden Jokowi bertemu mantan Sekjen PBB Kofi Annan di Bali pada 9 Desember 2016.
Bahkan, dalam pertemuan antarmenteri di Yangoon, 19 Desember 2016, Menlu Retno Marsudi juga menyampaikan pesan tersebut ke dalam forum.
"Oleh sebab itu, harapan saya, perdamaian, stabilitas dan harmoni segera tercipta di Rakhine State," ujar Jokowi.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mengirimkan sebanyak 10 kontainer berisi bantuan yang terdiri dari satu kontainer berisi sarung (10.000 potong).
Kemudian, lima kontainer berisi mie instan kuah, tiga kontainer berisi terigu dan satu kontainer berisi biskuit bayi.
Read More

Dubesnya Diusir, Foto Pemimpinya Dibakar, Aksi Demo di Jakarta Bikin Panglima Militer Myanmar Geram

Dubesnya Diusir, Foto Pemimpinya Dibakar, Aksi Demo di Jakarta Bikin Panglima Militer Myanmar Geram
Gelombang aksi unjuk rasa yang dilakukan sejumlah elemen di Indonesia mendapat perhatian khusus dari pemerintah Myanmar.

Unjuk rasa itu dilakukan untuk mengutuk perbuatan keji yang dialami oleh etnis Rohingya. Di mana sekira 3000 orang terpaksa lari menyelamatkan diri ke perbatasan Bangladesh, karena tidakan brutal yang dilakukan militer Myanmar.

Dalam aksi yang dilakukan di depan Kantor Kedutan Besar Myanmar, Jakarta (2/9) itu, sempat terjadi saling dorong antara massa peserta unjuk rasa dengan pihak kepolisian. Aksi itu disebabkan massa ingin menggeruduk masuk ke dalam, dan menginginkan dubes Myanmar angkat kaki dari Indonesia.

“Ayo bakar-bakar. Ini aksi biadab tidak bisa dibiarkan, ini saudara muslim, harus dilawan,” teriak seorang perserta aksi.

Bahkan peserta unjuk rasa pun membakar‎ poster bergambar tokoh Myanmar Aung San Suu Kyi, karena tidak layak menjadi penerima Nobel Perdamaian.

Menyikapi itu, Panglima militer Myanmar Min Aung Hlaing mengecam sikap berlebihan dunia internasional. Menurutnya, tindakan yang dilakukan militer semata-mata untuk membela pemerintah dalam memberangus Rohingya.

"Kami telah sejak awal membiarkan dunia tahu bahwa Rohingya tidak ada di negara kami. Etnis Bengali di negara bagian Rakhine bukan warga Myanmar, mereka hanya orang-orang yang datang dan tinggal di negara ini," kata Hlaing seperti dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan Hlaing seolah-olah makin mempertegas sikap pemerintah Myanmar yang menolak intervensi dunia internasional, termasuk Indonesia selaku negara dengan penganut muslim terbesar di dunia.

"(Saya) geram dengan aksi protes itu. Kami muak dengan reaksi berlebihan masyarakat disana (Indonesia) yang sepertinya tidak mengerti apa-apa," kata Hliang menanggapi aksi demonstrasi itu.

‎Sekadar informasi, bentrokan Rohingya menjadi eskalasi terbaru dari kekerasan yang telah melanda Rakhine sejak Oktober lalu. Saat itu, militer Myanmar menuding Rohingya menyerang pos keamanan di perbatasan di Rakhine sehingga menewaskan sekitar sembilan polisi.

Dalam operasi balasan atas serangan tersebut, aparat keamanan Myanmar diduga menyiksa hingga membunuh warga Rohingya secara membabi-buta hingga menewaskan sedikitnya 400 orang dan memaksa sekitar 87 ribu Rohingya mengungsi ke luar Myanmar.
Read More

Panglima TNI Sebut Indonesia Siap Kirim Pasukan ke Myanmar

Panglima TNI Sebut Indonesia Siap Kirim Pasukan ke Myanmar
referensikitakita.blogspot.com
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan siap mengirimkan pasukan bantuan dalam operasi militer ke Myanmar. Kendati demikian, pemerintah Indonesia masih harus menunggu persetujuan dari kongres pemerintah Myanmar sebelum mengirimkan pasukan militer. “Tunggu kongres lah. Kita kan tidak bisa masuk negara orang kalau tidak diizinkan ya, walaupun Presiden sudah setuju. Tapi kita siap saja (mengirimkan pasukan),” ujar Gatot di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/9/2017).

Indonesia Siap Kirim Pasukan ke Myanmar
Pengiriman bantuan militer tersebut merupakan bantuan untuk membantu para korban Rohingya untuk mengungsi ke tempat yang aman dan untuk meredam keterangan yang ada di Myanmar, lanjutnya, diperlukan kerjasama antar negara. “Jadi kita setiap hari antara saya dan menteri pertahanan Myanmar minimal dua hari telepon-telponan menunggu waktu yang tepat untuk terjun ke Lokasi,” ujarnya.

Dalam pengiriman pasukan ini nantinya juga akan dilakukan pertukaran informasi intelijen. Selain itu, kerjasama keamanan ini juga meliputi upaya untuk memperketat kesiagaan. “Setelah ketegangan sudah kembali normal, kita akan kembali ke tanah air,” katanya.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyampaikan, pemerintah Indonesia telah berkomunikasi dengan pemerintah Myanmar terkait bantuan militer untuk membantu Rohingya di Rakhine, Myanmar. Tak hanya Indonesia, sejumlah negara lainnya seperti Malaysia dan Turki pun juga telah menjalin komunikasi terkait hal ini.

Kendati demikian, bantuan operasi militer tentu harus melalui mekanisme dan prosedur yang harus dijalani. Mekanisme bantuan operasi militer itulah yang tengah dibahas. Wiranto mengatakan, masalah bantuan operasi militer ini akan dibahas melalui pertemuan yang antara Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Myanmar untuk berunding dengan sejumlah tokoh penting seperti National Security Adviser Myanmar Aung San Suu Kyi dan Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar Jenderal Senior U Min Aung Hlaing.

Langkah Panglima TNI tersebut atas instruksi Presiden Joko Widodo.
Read More