Tampilkan postingan dengan label Rohingya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohingya. Tampilkan semua postingan

Terbongkar! Propaganda Untuk Menyalahkan Rohingya, Menyamar Berpeci Berkerudung Bakar Rumah

Penguasa Myanmar menuding kekerasan yang terjadi terhadap Rohingya dikarenakan ulah mereka membakar rumah-rumah warga Budha. Penguasa Myanmar dan antek-anteknya juga menuding gerilyawan ARSA sebagai kambing hitam terjadinya kekerasan di Rakhine.

Merekapun membuat rekayasa dan propaganda salah satunya dengan menyamar tampilan berpeci putih dan mengenakan kerudung saat membakar rumah-rumah muslim Rohingya. Lalu foto-foto itu digunakan sebagai propaganda kepada dunia untuk mengelabui.
Tipuan itu didongkar oleh Rohingya Community di akun fbnya (6/9/2017):
Propaganda Murah oleh Tentara Myanmar / Budha.
Umat ​​Buddha mencoba menciptakan propaganda media baru dengan mempentaskan skenario / situasi ini seperti yang terlihat pada foto di bawah ini.
Di sini mereka mencoba untuk mengklaim bahwa “Rohingya sedang membakar rumah-rumah Buddha”. Tapi sebenarnya mereka hanya bertindak menyamar sebagai orang Rohingya dengan mengenakan jilbab seperti kain di kepala wanita dan topi Islami untuk Pria.
Bukti saya adalah sebagai berikut bahwa situasi ini benar-benar palsu / dipentaskan (dibuat) dan sebuah propaganda melawan Rohingya untuk menganiaya mereka lebih banyak lagi:

  1. Perhatikan topi putih yang dipakai para pria (aktor). Topi yang benar-benar masih baru. Di saat seperti sekarang ini dimana nyawa terancam hidup atau mati, orang-orang Rohingya tidak memakai pecinya, mereka sudah tak memikirkan memakai peci. Dan bahkan jika mereka mengenakan topi Islami, itu tidak akan sebersih dan mengkilap seperti di foto.
  2. Para wanita dalam foto berusaha menyerupai diri mereka sebagai wanita muslimah Rohingya sejati dengan mengenakan jilbab. Tapi wanita Rohingya tidak pernah memakai jilbab model seperti itu sama sekali. Sangat jelas bahwa mereka bahkan tidak tahu bagaimana memakai kain lap di kepala mereka.
  3. Orang-orang di foto itu menyembunyikan wajah mereka di bawah topeng.
  4. Semua dari mereka menghadap ke belakang kamera untuk menyembunyikan bentuk wajah aslinya.
  5. Fakta Terbesar: Sekarang mengapa di bumi seseorang bisa begitu bodoh untuk mendokumentasikan kejahatannya dengan membiarkan seorang kamerawan mengambil gambar dari semua sudut ?? !!

Kebenaran FAKTA:
Foto-foto itu adalah sebenarnya rumah keluarga Rohingya. Kemungkinan besar sebagian anggota keluarga terbunuh dan beberapa lainnya berhasil melarikan diri.
Kemudian aktor-aktor ini (Buddhis) datang untuk mengubah skenario kenyataan dengan mengambil gambar diri mereka untuk menunjukkan kepada media bahwa Rohingya adalah orang-orang yang membakar rumah-rumah Buddha.
Read More

Jawaban Mengejutkan Rakyat Rohingya, "Tolong Antar Kami Ke Aceh, Mereka Saudara Muslim Yang Baik"

Kabar pembantaian etnis Rohingya seolah tidak habisnya. Mereka masih menjadi sasaran peluru militer Myanmar.

Etnis Rohingya digambarkan sebagai suku yang paling teraniaya di dunia. Ditolak oleh negara yang mereka sebut rumah dan tidak diinginkan oleh tetangganya. Rohingya adalah potret kemiskinan tanpa kewarganegaraan.

Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri setelah militer Myanmar membumihanguskan kampung mereka

Mereka telah menceritakan kisah-kisah mengerikan dari pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran rumah oleh pemerintah Myanmar - dulu Burma.

Aktivis mengutuk kurangnya respon internasional. Beberapa telah menggambarkan situasi ini sebagai Asia Tenggara Srebrenica, mengacu pada pembantaian Juli 1995 yang memakan korban lebih dari 8.000 Muslim Bosnia.

BBC, kantor berita internasional berhasil mewawancarai warga Rohingya di penampungan sementara setelah sebelumnya dilarang masuk oleh pemerintah Myanmar.

Saat ditanya kemana tujuan mereka jika berhasil keluar dari Myanmar, beberapa dari mereka kompak menjawab, "Tolong antar kami ke Aceh, mereka saudara muslim yang baik, yang mau menerima kami."

Seperti diketahui, sejak tahun 2015, Malaysia menutup perairannya untuk pengungsi Rohingya. Malaysia bahkan mengerahkan kapal perang untuk menakuti pengungsi.

Sekitar satu juta Muslim Rohingya diperkirakan hidup di negara bagian Rakhine barat, di mana mereka adalah minoritas yang cukup besar. Wabah kekerasan komunal telah terjadi mulai  pada tahun 2012. Lebih dari 100.000 orang mengungsi, dan puluhan ribu Rohingya tetap di kamp-kamp jompo yang setiap saat harus siap dibantai.
Read More

Mengejutkan, 3 Tentara Myanmar di Tangkap Militan Rohingya. ini alasan mereka membunuh Etnis Muslim Rohingya

Mengejutkan, 3 Tentara Myanmar di Tangkap Militan Rohingya. ini alasan mereka membunuh Etnis Muslim Rohingya
Adu tembak antara militan Rohingya dan tentara Myanmar meletus lagi. Militan Rohingya yang lebih dikenal dengan ARSA berhasil menahan tiga tentara Myanmar.

Ketiganya langsung diinterogasi pihak ARSA. Dan jawaban dari ketiganya sangat mengejutkan para militan.

"Tentara Myanmar membunuh warga Rohingya agar cepat mendapatkan kenaikan pangkat. Ini sangat mengejutkan. Mereka bukan manusia," ujar Jamal (43), salah satu militan yang menginterogasi, seperti dilansir dari Incanews.com.

"Bukan hanya itu, mereka (Myanmar) memberlakukan sistem poin bagi tentaranya. Poin paling besar jika membunuh lelaki dewasa, kemudian wanita dewasa, dan terakhir anak-anak dan lansia," sambung Jamal.

"Makanya, tentara Myanmar rebutan untuk bisa membunuh etnis Rohingya. Jika lelaki dewasa sudah habis dibantai, anak-anak kami pun jadi sasaran berikutnya. Mereka sangat sadis," akhir Jamal dalam wawancara ekslusif.

Sebelumnya, Myanmar menyatakan menolak sebuah gencatan senjata yang diumumkan oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). ARSA mengusulkan gencatan senjata untuk memungkinkan penyampaian bantuan kepada ribuan orang terlantar di negara bagian Rakhine. Militer Myanmar menuturkan, mereka tidak melakukan negosiasi dengan teroris.

"Kami tidak memiliki kebijakan untuk bernegosiasi dengan teroris," kata militer Myanmar dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters pada Minggu (10/9).

Seperti diketahui, kemarin ARSA mengumumkan gencatan senjata unilateral selama sebulan dalam perang melawan tentara Myanmar. Tujuannya, untuk memberikan kesempatan kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan menolong warga Rohingya di Rakhine.

”ARSA sangat menganjurkan semua aktor kemanusiaan yang peduli untuk melanjutkan bantuan kemanusiaan mereka kepada semua korban krisis kemanusiaan, terlepas dari latar belakang etnis atau agama selama periode gencatan senjata,” kata kelompok itu. Dalam pernyataan, ARSA juga meminta militer Myanmar untuk sementara waktu meletakkan senjatanya



Baca juga :
Read More

Kesaksian Warga Rohingya di Medan : Kami Ditembaki Lalu di Penggal, Rumah dan Mesjid Dibakar

Kesaksian Warga Rohingya di Medan : Kami Ditembaki Lalu di Penggal, Rumah dan Mesjid Dibakar
Rasa trauma mendalam tidak bisa dihilangkan oleh warga etnis Rohingya yang menjadi korban kekejaman rezim Myanmar. Etnis yang mayoritas beragama Islam itu banyak yang memilih kabur ke luar negeri.

Salah satuya pergi ke Indonesia dan saat ini masih berada di Rumah Deteksi Imigrasi (Rudenim) Belawan, Medan, merasakan trauma yang mendalam.

Salah satu imigran Rohingya, Muhammad Jabar mengaku sudah berada di Indonesia selama 5 tahun. Pelariannya dari Myanmar karena tidak tahan melihat kekejaman pemerintah dan militer yang melakukan kekerasan kepada mereka.

"Di depan mata saya, adik dan paman saya ditembak, ayah saya diculik dan rumah-rumah dibakar. Semua keluarga saya habis, makanya saya memilih kabur ke negara luar," kata Jabar kepada Sumut Pos (Jawa Pos Group), di Rudenim Belawan, Senin (4/9).

Peristiwa sadis dialami keluarganya terjadi pada 5 tahun silam. Masa itu, pemerintahan Myanmar menolak keberadaan etnis Rohingya. Akibatnya, seluruh warga Rohingya menjadi sasaran kekerasan dan kekejaman para militer Myanmar.

"Banyak masjid, Alquran dan rumah dibakar pada masa itu, mereka cukup kejam. Kami warga Rohingya mau dihabisi oleh pemerintah," kata Jabar yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini.

Jabar dan beberapa saudaranya sesama Rohingya bisa sampai ke Indonesia dengan cara menggunakan sampan mengarungi laut hingga menyasar ke daratan Indonesia.

Kepergiannya ke Indonesia meninggalkan seorang anak dan istri. Belakangan, ia mendengar kabar istrinya telah meninggal setahun lalu ditembak oleh militer Myanmar.

"Saya dengar dari teman satu negara saya, setahun lalu istri saya sudah meninggal ditembak militer, mamak, adik dan anak saya tidak tahu sekarang bagaimana. Karena rumah kami sudah habis dibakar," ungkap pria berusia 38 dengan nada sedih.

Pembantaian dan kekejaman yang terus-menerus terjadi, menyisakan trauma mendalam bagi Jabar. Makanya, dia memilih hidup di dalam penjara Rudenim Belawan daripada hidup di Myanmar dengan kondisi tersiksa. "Kami tak mau pulang ke Myanmar, kami lebih baik hidup seperti ini," ungkap Jabar.


Harapan Jabar yang mewakili sebanyak 27 imigran Rohingya Myanmar ini, mereka bisa menjadi warga negara lain yang bisa diakui oleh pemerintah.

"Kami sangat berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan kami kehidupan dan mengakui menjadi warga negara, agar kami bisa bekerja dan berkeluarga," harapnya.

Disinggung dengan adanya peristiwa yang belakangan ini terjadi, Jabar mengaku sangat sedih dengan penderitaan saudara-saudara mereka. Bahkan, dia yakin pemerintah Myanmar akan terus membantai etnis Rohingya.

"Kami sebenarnya adalah bagian dari Myanmar, nenek moyang kami sudah ada 900 tahun lalu di Myanmar. Cuma, kami Rohingya Muslim tidak diakui dan bakal terus dibunuh. Jadi, apa yang terjadi saat ini merupakan kejadian yang sama pada masa kami kabur dari Myanmar," cerita Jabar.

Hal senada juga disampaikan Mussrof Husein. Pria berusia 21 tahun ini sudah 9 bulan di Indonesia. Dia mengaku trauma dengan kekejaman para militer Myanmar yang membantai warga Rohingya.

"Saya kabur dari Myanmar karena rumah dan semua keluarga saya dibunuh. Sebelumnya, saya sudah berada di Malaysia 3 tahun, belakangan ini saya coba mencari kerja dan kabur ke Indonesia," kata Mussrof.

Dikatakan Mussrof, seluruh warga Rohingya yang berada di Myanmar mengalami pembantaian sadis. Karena itu, mereka sangat mengharapkan perhatian dunia untuk keselamatan warga dan keluarga mereka yang masih berada di Myanmar.

"Ini sudah lama terjadi, saudara-saudara kami bakal terus disiksa dan dibunuh. Militer Myanmar sangat kejam, kami tahu apa yang mereka rasakan di sana, mereka pasti terancam dan tersiksa," ungkap Mussrof.

Terpisah, Kepala Rudemin Belawan, Abdul Karim mengatakan, adanya isu yang sedang hangat mengenai pembantai warga Rohingya tidak mempengaruhi psikologis bagi penghuni Rohingya di Rudemin Belawan.

"Mereka tahu ada peristiwa yang terjadi di negara mereka, tapi kita terus memberikan terapi dan pemahaman secara psikologis melalui lembaga IOM yang datang berjumpa dengan para imigran," kata Abdul Karim.

Dijelaskan Abdul Karim, di Rudenim Belawan ada sebanyak 27 imigran Rohingya Myanmar. Mereka dapat berbaur dengan para imigran lain dan tidak pernah melakukan tindakan di luar akal sehat.

"Untuk saat ini, tidak ada masalah khusunya bagi warga Rohingya Myanmar. Kita terus melakukan pengawasan dan memberikan pencerahan dengan pelatihan sosial, seni, penidikan dan olah raga,” jelas Abdul Karim.

Ditanya jumlah seluruh penghuni di Rudenim Belawan dan apakah ada perselisihan atau kendala yang terjadi, Abdul Karim mengatakan, ada sebanyak 309 penghuni imigran dari berbagai negara seperti Srilangka, Myanmar, Somalia, Pakistan, dan Palestina.

"Seluruh imigran yang berada di Rudenim dapat berbaur dan bersosialisasi dengan baik, jadi, selama ini tidak ada perselisihan atau tekanan mental yang mereka hadapi," jelas Abdul Karim di ruang kerjanya.
Read More

Militan Rohingya ajukan gencatan senjata demi bantuan

Militan Rohingya ajukan gencatan senjata demi bantuan
Kelompok militan Rohingya menamakan diri Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) menyatakan gencatan senjata sepihak selama satu bulan. Hal itu dilakukan dengan maksud buat memberi jalan pengiriman bantuan kepada korban konflik di Negara Bagian Rakhine.

Dilansir dari laman Al Jazeera, Minggu (10/9), ARSA mengajukan gencatan senjata itu Sabtu kemarin dan mulai berlaku hari ini. Mereka juga meminta pasukan Myanmar (Tatmadaw) sementara meletakkan senjata.

"ARSA meminta semua pihak mementingkan relawan buat kembali membantu para korban krisis kemanusiaan, tanpa melihat perbedaan etnis atau latar agama mereka selama gencatan senjata," demikian pernyataan disampaikan ARSA.

Hanya saja sampai saat ini belum diketahui dampak dari gencatan senjata diajukan ARSA. Sebab, perlawanan kelompok itu terhadap militer Myanmar juga tidak terlalu gencar. Militer Myanmar juga belum merespon gencatan senjata, tetapi mereka kemungkinan besar tidak bisa menolak. Sebab banyak kelompok relawan kemanusiaan di Rakhine menyatakan apa yang dilakukan tentara Myanmar lebih mengarah kepada aksi pembersihan etnis, ketimbang operasi militer.

Perwakilan Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Dunia (IFRC), Joy Singhal, mengatakan gencatan senjata akan membantu pekerjaan mereka mengirim bantuan ke Rakhine jika dilakukan kedua belah pihak. Dia mengatakan IFRC mengambil alih pekerjaan pengiriman bantuan ke Rakhine setelah Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa terpaksa menghentikan sementara kegiatan mereka, sebab pemerintah Myanmar menuding kalau PBB membantu pemberontak.

Singhal mengatakan pemerintah Myanmar mengundang mereka buat mengirim bantuan. Namun, hal itu harus dilakukan di bawah pengawasan pemerintah Myanmar, sehingga banyak orang Rohingya khawatir mereka tidak bakal menerima bantuan.

"Kami meminta keamanan di jalur pengiriman bantuan. Sebab kami bakal mengirim makanan, air minum, dan transportasi bagi orang-orang ke wilayah lebih aman," kata Joy
Read More

Fakta Asal Usul Etnis Muslim Rohingya, benarkah bukan pribumi Myanmar?

referensikitakita.blogspot.com
Derita nestapa seakan tiada henti melanda etnis Muslim Rohingya. Berbagai ujian dan cobaan berat kini harus mereka hadapi. Mulai dari penganiayaan, pembantaian, hingga terusir dari tanah kelahiran mereka sendiri yang sekarang disebut Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Pemerintah Myanmar saat ini menganggap masyarakat Rohingya sebagai "pendatang haram" yang tidak jelas asal-usulnya. Sebagai dampaknya, etnis Muslim itu kini harus berjuang keras menghadapi penindasan yang dilakukan etnis mayoritas Burma. Nyawa mereka pun menjadi taruhannya.

Francis Buchanan, mengungkapkan, kaum Mohammedan (yang secara harfiah berarti pengikut Muhammad atau Muslim) telah lama menetap di Arakan. "Orang-orang itu menyebut diri mereka sebagai Rooinga yang berarti masyarakat pribumi asli Arakan," tulis Buchanan dalam laporannya, "Asiatic Research 5", yang diterbitkan pada 1799.

Sementara tiu, sebagaimana dilansir Republika, Minggu (31/5/2015), sensus yang dilakukan pemerintah kolonial Inggris di Burma pada 1826, 1872, 1911, dan 1941 juga menyebutkan, masyarakat Rohingya yang diidentifikasi sebagai Muslim Arakan adalah salah satu ras asli di Burma.

Menurut hasil dokumentasi SIL Internasional (sebuah lembaga bahasa dunia yang memiliki status konsultatif khusus dengan PBB), bahasa Rohingya Myanmar masuk dalam rumpun dialek Indo-Arya. Bahasa ini terdaftar dengan kode "rhg" dalam tabel ISO 639-3.

Meski dialek yang dipertuturkan orang-orang Rohingya berbeda dengan yang diucapkan penduduk Burma di Rakhine sekarang, fakta sejarah membuktikan bahasa Rohingya mempunyai kesamaan dengan bahasa yang digunakan masyarakat Vesali kuno (antara 327-818).

Di samping itu, hasil kajian Universitas Oxford sepanjang 1935-1942 menyimpulkan, kebudayaan Rohingya sama tuanya dengan usia Monumen Batu Ananda Sandra yang didirikan di Arakan pada abad kedelapan silam.

Semua catatan di atas dapat menjadi gambaran bahwa etnik Muslim Rohingya memiliki akar sejarah yang kuat sebagai salah satu ras pribumi asli di Rakhine-- yang sekarang menjadi bagian dari wilayah Myanmar. Oleh karena itu, tidak ada pembenaran untuk mencap etnik Rohingya sebagai ras asing hanya karena mereka menganut ajaran Islam dan menggunakan nama-nama Muslim.

Pemimpin Rohingya yang juga politikus Partai Pembangunan Uni Nasional di Myanmar, Abu Tahay, memaparkan sejarah keberadaan kelompok etnis tersebut dalam karya tulisnya, "Rohingya Belong to Arakan and Then Burma and So Do Participate."

Di situ disebutkan, sejarah etnis Rohingya bermula ketika masyarakat kuno keturunan Indo-Arya yang menetap di Arakan (Rakhine sekarang--Red) memutuskan untuk memeluk Islam pada abad ke-8. Pada masa-masa selanjutnya, generasi baru mereka kemudian juga mewarisi darah campuran Arab (berlangsung pada 788-801), Persia (700- 1500), Bengali (1400-1736), dan ditambah Mughal (pada abad ke-16).

Catatan sejarah mengungkapkan, syiar Islam mencapai Arakan sebelum 788 Masehi.

Islam memainkan peranan penting bagi kemajuan peradaban di Arakan. Umat Islam, Buddha, dan Hindu hidup berdampingan selama berabad-abad dalam suasana rukun dan penuh persahabatan. Mereka (kelompok Muslim, Buddha, dan Hindu) juga memerintah negeri Arakan bersama-sama.

Letnan Kolonel Win Maung, yang pernah bekerja di Direktorat Transmigrasi Kementerian Pertahanan Myanmar, pernah menerbitkan buku berjudul The Light of Sasana (Cahaya dari Sasana) pada 1997 lalu. Pada halaman 65 buku itu disebutkan, agama Islam sudah diperkenalkan ke Myanmar sejak 1.000-1.200 tahun silam.



Baca juga :
Read More

Rohingya Dibantai, Panglima Ini Serukan Jihad Lawan Militer Myanmar


Kabar pembantaian muslim Rohingya sudah sampai di timur tengah. Panglima Alqaeda di Yaman, Khaled Batarfi menyatakan mengutuk keras kejadian itu.

Bhakan, Khaled Batarfi dengan tegas menyatakan perang terhadap pemerintah Myanmar sebagai sebagai bentuk dukungan untuk etnis Rohingya.

Dalam video yang dirilis al-Malahem, Khlaed Batarfi menyerukan kepada semua Muslim di Bangladesh, India, Indonesia dan Malaysia untuk membantu etnis Rohingya melawan "musuh-musuh Allah".

Khaled Batarfi juga mendorong cabang Alqaeda di India untuk melancarkan serangan balasan pada militer Myanmar.

"Kerahkan semua untuk melancarkan jihad melawan mereka dan menangkis serangan mereka, dan jangan sampai mengecewakan saudara-saudara kita di Burma (Myanmar)," ujar Khlaed Batarfi seperti dilansir Reuters, Sabtu (2/8).

Seperti diketahui, kelompok minoritas Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, kembali dibantai militer setempat. Rumah mereka dibakar, diusir, diperkosa dan tidak sedikit yang dibunuh.

Laporan resmi pemerintah Myanmar menyebutkan 400 orang tewas dan puluhan ribu mengungsi sejak kekerasan pecah di wilayah tersebut pekan lalu.
Read More

Suu Kyi Minta Indonesia Tak Campuri Soal Rohingya, Ini Kata DPR

Anggota Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyahri menilai pernyataan tokoh demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi sangat aneh. Pasalnya, Suu Kyi yang merupakan peraih Nobel perdamaian lantaran kerap melantangkan suara demokrasi, meminta Indonesia untuk tidak ikut campur soal etnis Muslim Rohingya di Myanmar.

"Pemegang nobel perdamaian tapi antidemokrasi, aneh," kata Almasyahri saat dihubungi, Sabtu (2/9/2017).

Dia mengatakan, Mantan Presiden Myanmar tersebut tidak bisa semaunya sendiri melarang Indonesia. Sebab, yang

menimpa etnis Rohingya saat ini merupakan masalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat.

"Jika yang dilakukan adalah melanggar HAM maka siapapun berhak untuk mengingatkan termasuk Indonesia. Kita tidak bisa membiarkan kejahatan kemanusiaan berlangsung terhadap siapapun, apalagi terhadap muslim di Rohingya karena Indonesia berpenduduk mayoritas muslim," tegasnya.

Oleh karena itu, dia menyarankan perempuan yang kini menjabat Penasihat Presiden Htin Kyaw tersebut belajar dari keragaman Indonesia. Selain itu, Almasyahri juga berharap, Indonesia terus menyuarakan masalah etnis Rohingya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan forum Internasional lainnya.

"Saya berharap Suu Kyi dapat mencontoh toleransi yang ada di Indonesia, kami berbeda agama tapi tetap hidup rukun," tutur Almasyahri.

Diketahui, serangan tentara Myanmar kepada etnis Rohingya semakin meningkat. Sudah banyak korban yang terbunuh dari aksi tersebut. Akibat lainnya, ratusan ribu etnis Rohingya harus mengungsi ke luar Myanmar.
Read More

Memprihatinkan! 300 Ribu Orang Lakukan Eksodus, Begini Kondisi Pengungsi Rohingya

Memprihatinkan! 300 Ribu Orang Lakukan Eksodus, Begini Kondisi Pengungsi Rohingya
Jumlah warga Rohingya yang melakukan eksodus semakin bertambah.
Saat ini, mereka banyak yang melarikan diri sampai ke perbatasan Bangladesh, di barat laut Myanmar.
Dilansir dari Aljazeera, menurut seorang staf PBB yang ada di perbatasan Bangladesh, sejak pekan lalu, pengungsi Rohingya sudah mencapai 146 ribu jiwa.
Namun, angka tersebut terus bertambah secara besar-besaran.
PBB telah meningkatkan perkiraan jumlah pengungsi dari data tersebut ke angka 300 ribu jiwa.
Peningkatan perkiraan ini langsung dilontarkan oleh juru bicara Bangladesh untuk Program Pangan Dunia (WFP), Dipayan Bhattacharyya.
Kepada kantor berita Reuters, ia mengungkapkan bahwa kondisi pengungsi sungguh memprihatinkan.
Para pengungsi mengalami kekurangan gizi karena tidak ada makanan selama lebih dari sebulan.
"Mereka mengalami kekurangan gizi, mereka telah terputus dari makanan normal selama mungkin lebih dari sebulan," katanyaLebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa mereka pun terlihat kelaparan dan mengalami trauma.
Tidak hanya itu, kondisi pengungsi banyak yang mengalami sakit dan luka.
Bhattacharyya mengatakan, para pengungsi tiba di pengungsian melalui berbagai macam jalur, baik air maupun darat.
Berbagai bantuan kemanusiaan pun sudah mulai masuk di wilayah ini.
Di antaranya adalah berupa bantuan air bersih, sanitasi, dan makanan.
Saat ini memang banyak dari mereka yang tidak memiliki tempat berteduh.
Aung San Suu Kyi angkat bicara
Peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait nasib kaum Rohingya.
Seperti diketahui, Suu Kyi merupakan penasihat negara Myanmar dan menjadi pemimpin de facto negara tersebut.
Dilansir dari CNN, ia mengatakan bahwa pemerintahannya bekerja untuk melindungi hak Rohingya.
Pernyataan tersebut ia sampaikan melalui telepon dengan Presiden Turki, Recep Tayyip ErdoÄŸan.
"Kami tahu betul apa artinya dicabut hak asasi manusia dan perlindungan demokrasi," ungkap Suu Kyi.
"Jadi kami memastikan agar semua orang di Myanmar melindungi hak kemanusiaan," tambahnya.
Selama telepon tersebut, Suu Kyi pun mengatakan banyak informasi keliru yang didistribusikan untuk mempromosikan kepentingan para teroris.
Read More

Presiden Jokowi Lepas 10 Kontainer Bantuan Indonesia untuk Rohingya

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengutus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, berkomunikasi dengan Pemerintah Myanmar soal keberadaan komunitas Muslim Rohingya.
Melalui Retno, Presiden Jokowi menyampaikan pesan penting kepada Pemerintah Myanmar soal bagaimana memanusiakan warga Rohingya di Rakhine State.
"Pada 6 Desember 2016 saya telah mengutus Menlu Retno untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Myanmar Aung San Suu Kyi, menyampaikan pesan penting," ujar Jokowi saat melepas paket bantuan untuk Rohingya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (29/12/2016).
Ada tiga pesan penting yang disampaikan. Pertama, pemerintah Indonesia menegaskan soal pentingnya membuka akses bantuan kemanusiaan ke Rakhine State.
"Segera diciptakan stabilitas dan perdamaian di Rakhine State dan menegaskan perlunya perlindungan serta penghormatan hak asasi manusia, utamanya bagi komunitas Muslim," ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan, pesan tersebut terus diulang. Salah satunya saat Presiden Jokowi bertemu mantan Sekjen PBB Kofi Annan di Bali pada 9 Desember 2016.
Bahkan, dalam pertemuan antarmenteri di Yangoon, 19 Desember 2016, Menlu Retno Marsudi juga menyampaikan pesan tersebut ke dalam forum.
"Oleh sebab itu, harapan saya, perdamaian, stabilitas dan harmoni segera tercipta di Rakhine State," ujar Jokowi.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mengirimkan sebanyak 10 kontainer berisi bantuan yang terdiri dari satu kontainer berisi sarung (10.000 potong).
Kemudian, lima kontainer berisi mie instan kuah, tiga kontainer berisi terigu dan satu kontainer berisi biskuit bayi.
Read More

Kondisi Terkini di Rakhine, Tak Terdengar Lagi Kontak Senjata

Kondisi Terkini di Rakhine, Tak Terdengar Lagi Kontak Senjata

Saat ini kontak senjata sudah tak terjadi lagi di Rakhine. Kondisi itu berlangsung selama lima hari terakhir.

Sementara, permukiman yang biasanya dihuni etnis Rohingya umumnya dalam keadaan kosong.

"Sebagian mereka eksodus, sebagian yang bertahan sekarang berada di hutan tak jauh dari tempat tinggal mereka di lingkungan yang dikuasai kelompok militan," ucap Duta Besar Republik Indonesia Untuk Myanmar Ito Sumardi. 

Ia menyampaikan itu berdasarkan laporan dari stafnya di lapangan.

Menurutnya, warga Myanmar yang juga sempat mengungsi karena konflik tersebut saat ini sudah kembali ke rumah. Mereka dikawal aparat keamanan.

Namun, sarana dan prasarana di Rakhine banyak yang mengalami kerusakan. Ada pula yang dibakar.

Ia mengatakan Pemerintah Myanmar memberi bantuan kepada pengungsi. Tapi hanya warga negaranya. 

"Sedangkan dari etnis Rohingya, saat ini mereka memang sangat-sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan," ucapnya.

Karena itu, Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengundang tujuh duta besar dari berbagai negara dan perwakilan PNN untuk berpartisipasi memberi bantuan.

"Dan mereka siap untuk segera menyalurkan bantuannya yang akan dikoordinir oleh Palang Merah internasional," terang Ito.
Read More

Patroli di Nunukan ditingkatkan antisipasi masuknya pengungsi Rohingya

Kepolisian di Nunukan, Kalimantan Utara, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, meningkatkan patroli. Ini untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya pengungsi Rohingya.

"Memang, di perbatasan perairan, ada peningkatan kewaspadaan ya. Karena memang isu terkini, soal pengungsi Rohingya. Bukan tidak mungkin, Nunukan jadi jalur masuk pengungsi," kata Kapolres Nunukan AKBP Jepri Yuniardi, kepada merdeka.com, Kamis (7/9).

Wilayah utara Kalimantan memiliki sederetan peristiwa terdamparnya warga asing. Seperti nelayan asal Filipina, yang pernah terdampar di Bulungan.

"Di Nunukan juga dulu pernah warga asing dari Filipina terdampar. Dari kejadian itu, seperti yang saya bilang tadi, tidak menutup kemungkinan pengungsi Rohingya masuk ke Kalimantan Utara, salah satunya di Nunukan," ucapnya.

Dia menuturkan, kemungkinan masuknya pengungsi Rohingya juga sudah dibahas di rapat Muspida Pemkab Nunukan. "Semua pihak, siap menangani giat kemanusiaan, kalau pengungsi Rohingya masuk ke Nunukan," tambahnya.

Peningkatan patroli juga untuk meminimalisir masuknya militan Maute dari Marawi, Filipina yang semakin terdesak akibat gempuran militer.

"Tempo hari kan, kita waspadai militan yang kabur dari Marawi. Tapi kan ini karena konflik bersenjata. Kalau Rohingya ini, karena alasan kemanusiaan, isu terkini masyarakat luas," sebut Jepri.
Read More

Ini Jenderal Myanmar paling bertanggung jawab atas pembunuhan di Rohingya

referensikitakita.blogspot.com
Nyaris telunjuk seluruh dunia diarahkan pada Aung San Suu Kyi saat terjadi kekerasan pada etnis Rohingya di Myanmar. Desakan agar nobel perdamaian yang diterima Suu Kyi dicabut juga terus menguat. 

Padahal ada satu nama yang tak bisa dilepaskan dari pelanggaran HAM di Myanmar. Dia adalah Jenderal Senior Min Aung Hlaing, panglima tertinggi seluruh angkatan bersenjata Myanmar. Aung San Suu Kyi tak memegang kendali atas pasukan. Semuanya ada di bawah Jenderal Min. 

Myanmar tak pernah sepi dari aneka pemberontakan bersenjata. Ada saja daerah yang ingin memerdekakan diri dari pemerintah di Yangon dan Naypyidaw.

Junta militer tak mengenal kompromi. Operasi militer adalah jawaban dari semua suara ketidakpuasan. Tak cuma gerilyawan yang dibunuh, warga sipil juga harus merasakan tindakan represif Tatmadaw, sebutan untuk militer Myanmar. Mulai dari relokasi paksa, pembunuhan, pemerkosaan dan kerja paksa di bawah militer.

Saat tentara Myanmar menumpas gerakan Nasionalis Karen di Kayin tahun 2006, diperkirakan setengah juta warga sipil ikut merasakan dampaknya.

Pasukan Myanmar juga berperang dengan Tentara Kemerdekaan Kachin dan perlawanan bersenjata di Kokang tahun 2014 dan 2015 lalu.

Kini di Rohingya, Jenderal Min Aung Hlaing meneruskan gaya kekerasan yang dilakukan oleh pemerintahan Junta Militer. Ratusan ribu orang mengungsi. Wanita-wanita diperkosa sementara pembunuhan dan pembakaran terus terjadi.

Siapa sesungguhnya Jenderal Min Aung Hlaing?

Dia lahir dari keluarga kelas menengah tahun 1956 di Savoy, wilayah Tanintharyi. Ayahnya seorang insinyur sipil yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum Burma.

Tahun 1973, Min sempat belajar hukum di Universitas Yangon. Namun pemuda ini kemudian tertarik masuk dunia militer. Dia kemudian masuk akademi militer Burma dan lulus dengan pangkat letnan dua tahun 1977.

Konon selama di akademi militer dia kurang disukai teman-temannya karena sifatnya yang pendiam dan kurang ramah.

Karir perwira muda di bawah Junta Militer ini cemerlang. Setelah bertugas bertahun-tahun dia dipromosikan menjadi komandan divisi infanteri 44 di Thaton. 

Namanya mulai dikenal saat dia menjadi komandan militer di wilayah segitiga konflik tahun 2002. Di daerah itu dia menghadapi tentara pemberontak Wa yang beraliran komunis dan tentara pemberontak Shan yang dipimpin para panglima perang lokal.

Tahun 2008 dia menjadi Mayor Jenderal dan diangkat menjadi Kepala Biro Operasi Khusus. Seluruh kendali pasukan di perbatasan menjadi tanggung jawabnya.

Tahun 2009 gencatan senjata antara tentara pemerintah dan pemberontak Myanmar National Democratic Alliance Army (MNDAA) bubar. Mayjen Min langsung menggelar operasi militer dan menghabisi para pemberontak. 

Selama operasi militer, tentara pemerintah diyakini melakukan pelanggaran HAM mulai dari pembunuhan massal, pemerkosaan dan pengusiran paksa. Lebih dari 37.000 warga sipil terpaksa mengungsi ke perbatasan China.

Operasi militer ini dinilai sukses oleh komandannya. Dia segera dipromosikan menjadi Letnan Jenderal di tahun yang sama. 

Tahun 2010, Min Aung Hlaing menggantikan Jenderal Shwe Mann sebagai kepala staf gabungan angkatan darat, laut dan udara. Kembali pangkatnya naik jadi jenderal bintang empat.

Dia menjadi pemimpin junta militer dan menjadi Jenderal Senior tahun 2013. Jenderal Min Aung Hlaing adalah orang yang sesungguhnya paling berkuasa di Myanmar.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi telah menemui sang jenderal senior ini. Menlu menyampaikan bahwa penurunan ketegangan di Rakhine State harus menjadi prioritas pemerintah Myanmar.

Jenderal Min tetap bersikeras apa yang pasukannya lakukan di Rakhine adalah dalam rangka memburu pemberontak ARSA yang melakukan tindakan teror di Rakhine. 

"Para ekstrimis Bengali itu melakukan serangan di wilayah Buthitaung dan Maungdaw," kata Min.

Namun dia berjanji akan mempertimbangkan akses bagi bantuan kemanusiaan yang diminta oleh Menlu Retno. 

"Indonesia telah siap untuk segera membantu Myanmar dalam memberikan bantuan kemanusiaan, kita menunggu akses untuk dibuka," ujar Menlu Retno, Senin (9/4).

Menlu berharap bantuan kemanusiaan yang diberikan Indonesia dapat mencapai semua orang yang memerlukan, tanpa terkecuali. Dia mengatakan, bantuan kemanusiaan di wilayah-wilayah di mana penduduk sangat memerlukan bantuan pangan dan obat-obatan harus didahulukan.

Read More

Panglima TNI Sebut Indonesia Siap Kirim Pasukan ke Myanmar

Panglima TNI Sebut Indonesia Siap Kirim Pasukan ke Myanmar
referensikitakita.blogspot.com
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan siap mengirimkan pasukan bantuan dalam operasi militer ke Myanmar. Kendati demikian, pemerintah Indonesia masih harus menunggu persetujuan dari kongres pemerintah Myanmar sebelum mengirimkan pasukan militer. “Tunggu kongres lah. Kita kan tidak bisa masuk negara orang kalau tidak diizinkan ya, walaupun Presiden sudah setuju. Tapi kita siap saja (mengirimkan pasukan),” ujar Gatot di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/9/2017).

Indonesia Siap Kirim Pasukan ke Myanmar
Pengiriman bantuan militer tersebut merupakan bantuan untuk membantu para korban Rohingya untuk mengungsi ke tempat yang aman dan untuk meredam keterangan yang ada di Myanmar, lanjutnya, diperlukan kerjasama antar negara. “Jadi kita setiap hari antara saya dan menteri pertahanan Myanmar minimal dua hari telepon-telponan menunggu waktu yang tepat untuk terjun ke Lokasi,” ujarnya.

Dalam pengiriman pasukan ini nantinya juga akan dilakukan pertukaran informasi intelijen. Selain itu, kerjasama keamanan ini juga meliputi upaya untuk memperketat kesiagaan. “Setelah ketegangan sudah kembali normal, kita akan kembali ke tanah air,” katanya.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyampaikan, pemerintah Indonesia telah berkomunikasi dengan pemerintah Myanmar terkait bantuan militer untuk membantu Rohingya di Rakhine, Myanmar. Tak hanya Indonesia, sejumlah negara lainnya seperti Malaysia dan Turki pun juga telah menjalin komunikasi terkait hal ini.

Kendati demikian, bantuan operasi militer tentu harus melalui mekanisme dan prosedur yang harus dijalani. Mekanisme bantuan operasi militer itulah yang tengah dibahas. Wiranto mengatakan, masalah bantuan operasi militer ini akan dibahas melalui pertemuan yang antara Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Myanmar untuk berunding dengan sejumlah tokoh penting seperti National Security Adviser Myanmar Aung San Suu Kyi dan Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar Jenderal Senior U Min Aung Hlaing.

Langkah Panglima TNI tersebut atas instruksi Presiden Joko Widodo.
Read More

Latar Belakang Terjadinya Konflik Permasalahan Etnis Rohingya

referensikitakita.blogspot.com
Pengungsi Rohingya meminta makanan di kamp pengungsian Ukhiya dekat perbatasan Bangladesh-Myanmar. Dalam sepekan konflik kekerasan, PBB memperkirakan sudah ada 87.000 pengungsi Rohingya yang masuk ke Bangladesh.

BBC Indonesia mengumpulkan pertanyaan Anda soal krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang menyebabkan sekitar 87.000 umat Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari kekerasan.

Kami menerima lebih dari 200 pertanyaan dari pembaca tentang apa yang kini tengah terjadi di Myanmar. Kami pilih tujuh pertanyaan yang sering diajukan, dan berikut ini adalah jawabannya.

Bagaimana awal mula permasalahan etnis Rohingya dan latar belakang terjadinya konflik?

Sejak lebih dari sepekan lalu, kekerasan terbaru meletus di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang banyak dihuni Muslim Rohingya.

Gelombang kekerasan baru ini menandai eskalasi dramatis sejak Oktober 2016 lalu ketika milisi Rohingya melakukan serangan dengan skala yang lebih kecil.

Para pengungsi menuduh aparat keamanan Myanmar dan kelompok militan radikal Buddha membakar desa-desa mereka.

Pemerintah Myanmar berdalih, pasukan keamanan mereka sekadar mengambil langkah balasan terhadap serangan bulan lalu terhadap lebih dari 20 pos polisi oleh milisi Rohingya.

Bentrokan susulan sesudah itu membuat banyak warga sipil baik Islam maupun Buddha, lari menyelamatkan diri dari desa-desa mereka.

Setelah serangan milisi pada bulan Oktober 2016, militer melakukan operasi pembalasan yang keras, dan banyak warga Rohingya menuduh bahwa dalam operasi itu pasukan keamanan melakukan pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran desa dan penyiksaan.

PBB sudah menyebut serangan balasan dari militer terhadap etnis Rohingya pada Oktober lalu sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Militer Myanmar mengatakan mereka sebisa mungkin akan menahan diri tapi juga menegaskan 'punya hak untuk membela diri dari serangan-serangan teroris'.

PBB mendefinisikan Rohingya sebagai minoritas agama dan bahasa dari Myanmar barat dan bahwa Rohingya adalah salah satu dari minoritas yang paling dipersekusi atau paling mendapat perlakuan buruk di dunia.

Namun asal kata Rohingya, dan bagaimana mereka muncul di Myanmar, menjadi isu kontroversial. Sebagian sejarawan mengatakan kelompok ini sudah berasal dari ratusan tahun lalu dan lainnya mengatakan mereka baru muncul sebagai kekuatan identitas dalam seabad terakhir.

Pengungsi Rohingya dari negara bagian Rakhine di Myanmar berjalan di sepanjang jalan setapak dekat Teknaf, Bangladesh, pada Selasa (4/9). 
(SUZAUDDIN RUBEL/AFP/Getty Images) Pengungsi Rohingya dari negara bagian Rakhine di Myanmar berjalan di sepanjang jalan setapak dekat Teknaf, Bangladesh, pada Selasa (04/09).

Pemerintah Myanmar berkeras bahwa mereka adalah pendatang baru dari subkontinen India, sehingga konstitusi negara itu tidak memasukkan mereka dalam kelompok masyarakat adat yang berhak mendapat kewarganegaraan.

Mereka tinggal di salah satu negara bagian termiskin di Myanmar, dan gerakan dan akses mereka terhadap pekerjaan sangat dibatasi.

Secara historis, mayoritas penduduk Rakhine membenci kehadiran Rohingya yang mereka pandang sebagai pemeluk Islam dari negara lain dan ada kebencian meluas terhadap Rohingya di Myanmar.

Di sisi lain, penduduk Rohingya merasa bahwa mereka adalah bagian dari Myanmar dan mengklaim mengalami persekusi oleh negara. Negara tetangga Bangladesh sudah menerima ratusan ribu pengungsi dari Myanmar dan tak mampu lagi menampung mereka.

Banyak warga Rohingya yang tinggal di kamp penampungan sementara setelah dipaksa keluar dari desa mereka oleh gelombang kekerasan komunal yang menyapu Rakhine pada tahun 2012.

Apa bantuan yang diberikan Indonesia terhadap muslim Rohingya?

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah bertemu dengan Aung San Suu Kyi untuk membicarakan upaya penyelesaian masalah Rohingya. Dalam pertemuan tersebut, Menlu menyerahkan Formula 4+1, yang isinya:

  • Mengembalikan stabilitas dan keamanan
  • Menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan
  • Perlindungan kepada semua orang yang berada di negara bagian Rakhine, tanpa memandang suku dan agama
  • Pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan keamanan

"Saya hadir di Myanmar membawa amanah masyarakat Indonesia, yang sangat khawatir terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine dan agar Indonesia membantu," jelas Menlu Retno kepada Aung San Suu Kyi, seperti tertulis dalam pernyataan pers Kementerian Luar Negeri Indonesia.
"Empat elemen pertama merupakan elemen utama yang harus segera dilakukan agar krisis kemanusiaan dan keamanan tidak semakin memburuk," jelas Menlu RI.

Apa langkah tegas PBB dalam menyikapi konflik inidan solusi agar warga Rohingya bisa hidup dengan baik dan tidak merasa hidupnya terancam?

Pelapor khusus PBB soal hak asasi manusia untuk Myanmar, Yanghee Lee, sudah mengkritik pemimpin de facto negara itu, Aung San Suu Kyi, karena gagal melindungi minoritas Muslim Rohingya.

Menurut Yanghee Lee, situasi di Rakhine "sangat gawat" dan ini adalah waktunya bagi Suu Kyi untuk "turun tangan".

Sementara itu, berbagai lembaga pemantau Hak Asasi manusia (HAM) melanjutkan desakan agar pemerintah Myanmar mengizinkan Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk Dewan HAM PBB untuk masuk dan mengungkap kebenaran peristiwa kekerasan di negara bagian Rakhine, tempat tinggal umat sebagian besar Muslim Rohingya.

Menlu Indonesia Retno Marsudi sudah bertemu dengan Aung San Suu Kyi untuk meminta pemerintah Myanmar menghentikan kekerasan di Rakhine. 
(AFP/Getty Images) Menlu Indonesia Retno Marsudi sudah bertemu dengan Aung San Suu Kyi untuk meminta pemerintah Myanmar menghentikan kekerasan di Rakhine.

TPF kasus Rohingya, yang dibentuk Dewan HAM PBB pada Maret 2017, sejauh ini belum mendapatkan izin melakukan tugasnya ke Myanmar, karena otoritas negara itu menolak keberadaan tim tersebut.

Kenapa ASEAN tak ada respons untuk mendamaikan atau mencari solusi untuk mendamaikan? Bagaimana pembahasan Rohingya di forum resmi ASEAN?

ASEAN sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan apa pun terkait krisis kemanusiaan di Myanmar.

Bagaimana sikap Aung San Suu Kyi sebagai pemenang Nobel Perdamaian atas keberadaan etnis Rohingya di Myanmar?

Aung San Suu Kyi, sebagai pemimpin de facto Myanmar, telah banyak dikecam karena tidak mengeluarkan pernyataan atau mengakui krisis yang terjadi di Rakhine terhadap etnis minoritas Rohingya.

Pelapor khusus PBB soal hak asasi manusia untuk Myanmar Yanghee Lee mengatakan bahwa Suu Kyi berada dalam posisi yang sulit namun tetap mengkritiknya karena tidak mengecam kekerasan.

"Dia terperangkap antara batu dan tempat yang keras, namun saya kira saatnya baginya untuk ke luar dari sana sekarang," kata Yanghee Lee.

Foto-foto palsu kekerasan di Myanmar yang memperparah ketegangan
Krisis Rohingya: 'Kami dengar orang-orang berteriak bakar, bakar, bakar'
Tokoh lain yang mengecam Suu Kyi adalah peraih Nobel Perdamaian lain, Malala Yousafzai, yang mengatakan bahwa dia dan dunia menunggu pernyataan dari Suu Kyi.

Konflik antara pemerintah Myanmar dengan Rohingnya, apakah benar benar karena murni faktor agama atau karena faktor lainnya?

Ada sisi agama dalam konflik ini, namun juga ada ketegangan antaretnis dan ekonomi.

Komunitas Rakhine merasa terdiskriminasi secara budaya, dieksploitasi secara ekonomi dan terpinggirkan oleh pemerintah pusat yang didominasi oleh etnis Burma.

Dalam situasi ini, etnis Rohingya, oleh orang Rakhine dianggap sebagai pesaing dalam perebutan sumber daya, sehingga menimbulkan ketegangan di negara bagian itu yang kemudian memicu konflik dari dua kelompok etnis tersebut.

Pengungsi Rohingya beristirahat sementara di bawah tenda sementara di tengah lapangan di Ukhiya, Bangladesh, 3 September 2017. (JASMIN RUMI/AFP/GettyImages) PengungsiRohingya beristirahat sementara di bawah tenda sementara di tengah lapangan diUkhiya,Bangladesh, 3 September 2017.
Myanmar juga memiliki sejarah panjang ketidakpercayaan antaretnis yang dibiarkan ada, dan kadang dieksploitasi, oleh militer.

Meski sering disebut tidak ada hubungan langsung antara berbagai ketegangan kelompok masyarakat, namun rasa tidak percaya antar-etnis tersebut kini terbuka setelah ada kebebasan.

Pengamat mengatakan bahwa pemerintah tidak cukup melakukan upaya mengatasi kekerasan dan karenanya memunculkan risiko konflik lanjutan.

Bagaimana cara memberi bantuan ke pengungsi Rohingya?

Ada banyak cara yang bisa dilakukan, dari mulai mengirimkan makanan dan obat-obatan lewat Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) yang diresmikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kamis (31/08) lalu, meski akses bantuan belum terbuka.

Aksi demonstrasi pun termasuk bentuk memberikan bantuan, meski tak semua orang menganggap ini efektif.

Selain itu, sudah ada sekitar 12.000 pengungsi Rohingya di Indonesia yang membutuhkan bantuan Anda.

Atau malah menjadi relawan anti-hoax untuk tidak menyebarkan berbagai foto menyesatkan di media sosial.
Read More

Seberapa kuat militer Myanmar dibanding Indonesia dan Malaysia?

rSeberapa kuat militer Myanmar dibanding Indonesia dan Malaysia?
eferensikitakita.blogspot.com
Aksi kekerasan yang dilakukan tentara Myanmar pada etnis Rohingya di Rakhine mendapat kecaman dunia. Hingga kini militer Myanmar masih menutup akses bantuan kemanusiaan ke Rakhine. Sementara ribuan orang Rohingya mengungsi ke perbatasan Bangladesh tanpa makanan maupun perbekalan yang memadai.

Myanmar yang dulu bernama Burma dikenal sebagai negara junta militer selama bertahun-tahun. Baru pada November 2015 lalu mereka menggelar Pemilu secara demokratis. Partai Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi meraih kemenangan dalam Pemilu.

Walau mendapat suara mayoritas di parlemen, pengaruh angkatan bersenjata tak hilang begitu saja. Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Senior U Min Aung Hlaing masih memegang kendali penuh atas pasukan dan masalah pertahanan keamanan negara itu.

Bertahun-tahun berkuasa, junta militer membangun angkatan bersenjata mereka dengan kuat. Situs globalfirepower menempatkan Myanmar di posisi 31 dunia. Bahkan lebih kuat dari Malaysia di posisi 33.

Namun masih jauh dibanding Indonesia yang berada di posisi 14 dan menjadi negara dengan kekuatan militer terkuat di kawasan Asia Tenggara.

Situs itu menyebut Myanmar memiliki 406.000 personel militer aktif. Sementara TNI tercatat memiliki 435.000 personel.

Angkatan Darat Myanmar juga cukup berotot. Mereka memiliki 592 unit tank, 1.300 kendaraan lapis baja dan ratusan meriam, peluncur roket dan artileri medan. Jumlah ini bahkan melampaui milik TNI AD dan Tentara Diraja Malaysia.

Tank kelas berat MBT 2000 buatan China dan T-72S buatan Ukraina jadi tulang punggung pasukan kavaleri Tatmadaw ini. Sementara untuk ranpur pengangkut pasukan, militer Myanmar menggunakan BTR-3U buatan Ukraina. 

Seperti diketahui, TNI AD mengandalkan Tank Leopard buatan Jerman, salah satu tank terbaik di dunia. Sementara Malaysia masih menggunakan PT-91M buatan Polandia.

Sementara Angkatan Udara Myanmar mengandalkan jet tempur multiperan MiG-29 buatan Rusia dan jet tempur buatan China seperti Nanchang Q-5, Chengdu J-7 dan Shenyang J-6. 

Melihat ini, TNI AU dengan barisan SU-27/30 serta F-16 Blok 52ID ditambah T-50i Golden Eagle masih di atas angin.

Read More

Tentara Myanmar Sengaja Pasang Ranjau di Perbatasan Bangladesh untuk Ciderai Pengungsi Rohingya

Tentara Myanmar Sengaja Pasang Ranjau di Perbatasan Bangladesh untuk Ciderai Pengungsi Rohingya
referensikitakita.blogspot.com
Sejumlah pengungsi etnik Rohingya mengalami cedera akibat ledakan ranjau di perbatasan Myanmar-Bangladesh dalam tiga hari terakhir.

Siapa pemasangnya?
Dua narasumber dari pemerintah Bangladesh mengklaim kepada kantor berita Reuters bahwa Myanmar menggunakan ranjau untuk mencegah kedatangan pengungsi Rohingya yang sempat melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di negara bagian Rakhine.

Kendati demikian, narasumber Reuters itu tidak mengklarifikasi apakah orang-orang pemasang ranjau itu mengenakan seragam atau tidak. Namun dia yakin, kelompok orang itu bukan pengungsi Rohingya.

Militer Myanmar enggan menanggapi ledakan di daerah perbatasan tersebut.
Zaw Htay, juru bicara Aung San Suu Kyi juga belum bersedia mengeluarkan pernyataan. Sekretaris Menteri Dalam Negeri Bangladesh, Mostafa Kamal Uddin, juga belum menjawab permintaan konfirmasi.

Kepada Reuters, dua narasumber itu menyebut pemerintah Bangladesh mengetahui keberadaan ranjau-ranjau itu dari sejumlah foto dan laporan lapangan.
"Myanmar menempatkan ranjau di wilayah mereka, di sepanjang pagar kawat berduri, di antara patok-patok perbatasan," kata salah satu dari dua narasumber yang tidak ingin identitasnya dipublikasikan.

"Tentara Bangladesh juga melihat tiga hingga empat kelompok beraktivitas di pagar kawat berduri, memasukkan sesuatu ke dalam tanah," ujar sumber anonim itu. "Kami lantas mengkonfirmasi pelapor kami, bahwa orang-orang itu memang memasang ranjau."

Rabu ini Bangladesh berencana mengajukan nota protes kepada Myanmar soal ranjau-ranjau yang ditanam dekat garis perbatasan. Rencana itu diutarakan sumber kantor berita Reuters yang menolak namanya disebut karena persoalan sensitif.

Petugas perbatasan Bangladesh, Manzurul Hassan Khan, menyebut dua ledakan terdengar di area perbatasan Myanmar, Selasa kemarin. Dua anak laki-laki dalam rombongan pengungsi Rohingya yang berusaha meninggalkan wilayah Myanmar dilaporkan luka-luka akibat ledakan tersebut.
"Mereka melangkah ke atas pijakan yang meledak pagi kemarin, satu dari mereka kehilangan kakinya," ujar Khan kepada kantor berita AFP.

Seorang perempuan Rohingya dilaporkan mengalami luka parah di bagian kaki akibat ledakan di area yang sama, sehari sebelumnya. Tiga korban ranjau tersebut dilarikan ke rumah sakit di Cox's Bazar, kota di garis perbatasan Bangladesh.

Hingga saat ini belum ada konfirmasi tentang penyebab ledakan itu, namun Human Rights Watch khawatir di kawasan perbatasan itu memang terdapat sejumlah ranjau.
Lebih dari itu, Khan menyebut beberapa pengungsi Rohingya yang masuk ke Bangladesh mengalami luka tembak. Namun konfirmasi atas kabar itu sulit didapatkan karena akses pers ke kawasan Myanmar yang sedang bergejolak itu sangat terbatas.

Seorang pengungsi Rohingya yang melintas di area ledakan itu mengaku merekam kondisi perbatasan tersebut. Ia mengaku melihat cakram berbahan logam berdiameter 10 sentimeter, terkubur sebagian di dalam lumpur.

Pengungsi itu yakin ia melihat dua cakram serupa yang juga terpasang di tanah kawasan itu.
Sebagian besar garis perbatasan Myanmar dan Bangladesh yang membentang sepanjang 217 kilometer merupakan tanah berpori yang lembek. Hampir di sepanjang kawasan itu, Myanmar membangun pagar kawat berduri.

Myanmar yang selama ini dipimpin pemerintahan militer tercatat sebagai satu dari sedikit negara yang belum menandatangani perjanjian pelarangan ranjau tahun 1997 yang digagas PBB.
Kekerasan militer Myanmar terhadap kelompok pengungsi itu pada 25 Agustus lalu menewaskan setidaknya 400 orang Rohingya. Akibat kejadian itu, sekitar 125 ribu pengungsi Rohingya mengungsi ke Bangladesh yang bertetangga dengan Myanmar. Sejumlah pihak menyebut kejadian itu disebut sebagai krisis kemanusiaan.


Baca juga :




Read More

Perkumpulan umat beragama di Tangerang berkumpul kecam kekerasan ke etnis Rohingya

Perkumpulan umat beragama di Tangerang berkumpul kecam kekerasan ke etnis Rohingya
Referensikitakita.blogspot.com
Pengurus perkumpulan Boen Tek Bio, Boen San Bio, Boen Hay Bio dan 11 rumah ibadah se-Tangerang Raya mengecam tindakan sadis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine state, Myanmar. Kecaman itu disampaikan dalam pernyataan sikap yang dibacakan pimpinan rumah ibadah Boen Tek Bio, Tan Lie di klenteng Boen Tek Bio, Pasar Lama, Kota Tangerang, Rabu (6/9).

Dalam kesempatan itu, sejumlah perwakilan rumah ibadah tersebut juga mengumpulkan donasi untuk membantu korban kekejaman militer dan sipil di kawasan Rakhine state yang disampaikan kepada perwakilan Majelis Ulama Indonesia Kota Tangerang. 

"Kami melaksanakan ini sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap tragedi yang terjadi terhadap suku Rohingya di Myanmar," ujar Ketua Badan Pengurus Boen Tek Bio, Tan Lie. 

Menurutnya, umat Budha, konghucu dan Tao sangat mengutuk segala bentuk kejahatan baik yang dilakukan oleh militer maupin sipil yang ada di Rakhine State terhadap suku Rohinya. 

"(Bantuan) ini adalah awal permulaan yang kita berikan karena spontanitas dari rekan-rekan kami yang mungkin jumlahnya baru sebagian kecil yang bisa kami berikan," imbuh Tan Lie.

Tan Lie mengatakan bahwa beberapa hari kedepan akan disediakan kotak amal yang akan ditempatkan di klenteng-klenteng dan perwakilan wihara yang hadir pada hari ini.

Sementara itu Perwakilan MUI Kota Tangerang KH. Drs. Hamidi Rusdi, Lc berpesan kepada seluruh umat beragama yang ada di Kota Tangerang, untuk tetap menjaga kondusifitas dan tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa.

"Umat beragama untuk saling menahan diri, jangan ada yang terpancing. Mari menjaga persatuan dan kesatuan," katanya. 
Read More

Benarkah 8 September Nanti Candi Borobudur Akan Dikepung Massa Aksi Bela Rohingya?

Benarkah 8 September Nanti Candi Borobudur Akan Dikepung Massa Aksi Bela Rohingya?

Referensikitakita.blogspot.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, meminta semua pihak tidak menyamakan sikap umat Budha di Indonesia dengan yang ada di Myanmar. Terutama di Provinsi Jawa Tengah.
Ia mengatakan, beberapa hari lalu dirinya sudah berkomunikasi dengan umat Budha di Jateng.
Mereka sepakat bahwa sikap umat Budha di Indonesia berbeda dengan di Myanmar mengenai persoalan Rohingnya.
"Mereka juga tidak sepakat dengan tindakan kekerasan kemanusiaan sampai menjurus pada genosida," kata Ganjar saat dihubungi melalui telepon selulernya, Selasa (5/9/2017) dilansir Tribun Jateng.
Maka ia mengimbau pada semua pihak agar tak perlu menggelar aksi yang mengatasnamakan gerakan peduli Rohingnya, di sekitaran kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, 8 September 2017 mendatang.
Baca: Kapolri: Isu Rohingya Digoreng untuk Menyerang Pemerintahan Jokowi
Mengingat Candi Borobudur merupakan sebuah tempat ibadah.
"Borobudur kok mau dikepung mau apa coba. Wong umat Budhanya kita yang di Jateng mau berkomunikasi kok," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah sudah lebih progresif melakukan berbagai aksi nyata terkait krisis kemanusiaan di Myanmar.
Ganjar menegaskan, pemerintah pusat sudah lebih cepat bergerak dengan mengirimkan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi untuk bertemu State Consellor Myanmar, Aung San Suu Kyi.
Pemerintah Indonesia juga sudah melakukan aksi nyata lainnya berupa pengiriman bantuan logistik, bantuan kesehatan, hingga mau membangun rumah sakit, dan lainnya.
"Itu merupakan aksi yang nyata, apa ada negara yang berbuat lebih seperti itu dibanding Indonesia. Apa lagi yang mau diinginkan (dari aksi di Borobudur). Saya kira Indonesia sangat progresif," katanya.

Ganjar tak mempersoalkan adanya aksi pengerahan massa untuk melakukan demonstrasi di tempat-tempat lain, akan tetapi ia berharap jangan sampai ada isu baru yang berbau SARA di Jateng.
"Bahwa kita mengutuk iya, bahwa kita ingin melakukan bantuan proaktif iya, bahkan diplomasi antarnegara iya, bahkan tidak ada yang tidak kita lakukan. Kita mengutuk bareng-bareng tapi jangan sampai ke daerah menjadi isu SARA," tandasnya.
Menurutnya, jika hal itu tidak diperingatkan sejak dini dikhawatirkan akan ada 'penumpang gelap' yang ingin memprovokasi.
"Kan kita tahu semua, kalau sudah berkaitan dengan suku agama kan jadinya bisa panjang, kita sudah belajar dari itu. Kan Jateng selama ini tenang, bagus," ujarnya.
Namun demikian, Ganjar menambahkan, pihaknya siap menampung aspirasi dari pihak-pihak yang ingin menggelar aksi.
Badan Kesbangpol Provinsi Jateng juga sudah disiapkan untuk menerima aspirasi dan menyampaikannya ke pusat.
Rencana aksi solidaritas bela Rohingya yang rencananya digelar Jumat (8/9/2017) di Borobudur hanya “ramai” di media sosial. Di lapangan, polisi tidak mendapati pergerakan massa yang signifikan.
“Rame di media sosial saja. Di lapangan tidak ada. Bandung ada tapi dikit. Tapi memang di medsos gambar yang ditampilkan banyak yang hoax,” ujar Asisten Operasional Kapolri Irjen M Iriawan, saat jumpa pers di Mapolda Jateng, Selasa (5/9/2017) seperti dikutip dari Kompas.com.
Polisi, sambung Iriawan, berhasil mengetahui modus penyebar isu melalui media sosial. Para penyebar isu ingin mengganggu ketertiban sosial di masyarakat.

Namun, kepolisian tetap melakukan antisipasi. Salah satunya dengan koordinasi lintas daerah untuk menyamakan persepsi tentang solidaritas bela Rohingya.
“Berkaitan dengan menyamakan persepsi adanya beberapa (kabar) timbul di media sosial hari Jumat tangal 8 besok ada pengerahan massa ke Candi Borobudur, yaitu sejuta massa dengan memutihkan Candi Borobudur,” ujar Iriawan.
Hasil koordinasi telah disepakati bahwa kegiatan aksi di Candi Borobudur dilarang. Alasannya, Candi Borobudur merupakan objek vital nasional, di mana orang tidak diperbolehkan melakukan unjuk rasa.
Ia meminta para Kapolres menyampaikan ke kelompok masyarakat, ormas, atau pihak tertentu yang ingin berangkat ke Borobudur untuk mengurungkan niatnya.
Read More

Negara ini pasok senjata ke militer Myanmar yang tindas muslim Rohingya

Negara ini pasok senjata ke militer Myanmar yang tindas muslim Rohingya
Referensikitakita.blogspot.com - 
Sejak insiden penyerangan pos polisi di Myanmar akhir bulan lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang, puluhan ribu warga muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine kini mengungsi ke Bangladesh karena menghindari kekerasan dari militer Myanmar dan kelompok warga sipil bersenjata.

Laman Middle East Eye melaporkan, Selasa (5/9), di tengah kecaman dunia internasional atas krisis kemanusiaan yang terjadi, Israel terus memasok persenjataan ke militer Myanmar, termasuk 100 tank, senjata, kapal cepat untuk polisi patroli di perbatasan. Kabar ini diungkap oleh kelompok pembela hak asasi dan para pejabat Myanmar.

Tak hanya itu, perusahaan senjata Israel Tar Ideal juga terlibat dalam memberikan pelatihan bagi pasukan keamanan Myanmar yang saat ini tengah menggelar operasi pembantaian terhadap warga Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Sejumlah foto di situs perusahaan itu memperlihatkan pegawai mereka memberi instruksi kepada pasukan keamanan Myanmar dalam simulasi taktik pertempuran dan bagaimana menggunakan senjata tertentu.

September tahun lalu Pengadilan Tinggi Israel akan menggelar sidang untuk mendengar petisi dari para aktivis yang menyerukan agar pemerintah Negeri Bintang Daud menghentikan ekspor senjata ke Myanmar.

Amerika Serikat dan Uni Eropa selama ini memberlakukan embargo senjata kepada Myanmar.

Pengacara Eitay Mack yang mewakili pihak pengaju petisi mengatakan Israel sudah tidak punya kendali lagi atas segala persenjataan yang sudah diekspor ke Myanmar. 

"Israel tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan senjata-senjata itu ketika sudah diekspor ke Birma (Myanmar)," kata Mack, pengacara hak asasi di Tel Aviv.

"Dari situs Tar Ideal kita mengetahui mereka mempersenjatai pasukan Birma yang saat ini beroperasi di Negara Bagian Rakhine."

Petisi itu diajukan pada Januari lalu, tak lama setelah pejabat Israel mengunjungi Myanmar untuk membahas perdagangan senjata dan kunjungan itu dibalas pula oleh pejabat Myanmar.

Setelah petisi diajukan ke pengadilan, militer Israel Maret lalu mengatakan pengadilan tidak punya hak yurisdiksi untuk membahas isu itu dan penjualan senjata ke Myanmar 'murni diplomatik'.

Israel dan Myanmar sudah menjalin hubungan erat dalam perdagangan senjata bertahun-tahun sejak sebelum junta militer mengakhiri kekuasaannya.

"Pemerintah Israel sudah menjual senjata ke diktator militer di Birma selama bertahun-tahun," kata Ofer Neiman, aktivis hak asasi Israel.

Read More