Mendur, Sang Dokumter Proklamasi

Pierre Mendur, kerabat mereka, mengisahkan bagaimana Frans nekat naik ke atas kapal penumpang rute Bitung-Surabaya, demi beranjak dari kampung halamannya di kawasan penghasil kacang tanah, Kawangkoan pada 1942.


''Dia tidak pegang uang, tidak bayar tiket naik kapal,'' ujarnya.
Turun di Surabaya, Frans tidak punya tujuan. Dia kemudian diangkat anak oleh Soemarto, itu mengapa disematkan 'Soemarto' di nama tengahnya.
Mendengar kabar Frans ada di Surabaya, Alex yang sudah bekerja sebagai wartawan foto di Jakarta mencari adiknya ke Surabaya sebulan kemudian. ''Dapat Frans, dia diajak ke Jakarta dan diajari pegang kamera,'' Pierre mengisahkan.
Keduanya bermukim di Jalan Matraman Raya, kompleks warga Kawanua (sebutan bagi orang Minahasa di perantauan).
Di bulan Agustus 1945, Alex saat itu sudah bekerja sebagai editor foto di Kantor Berita Domei, sekarang Kantor Berita Antara. Sedangkan Frans bekerja sebagai wartawan foto di Asia Raya.
Dari artikel yang dimuat Harian Merdeka pada Februari 1946 atau enam bulan sesudah Proklamasi, Frans menulis, ''Saya sendiri semula tidak percaya ketika seorang rekan wartawan Jepang dari Jawa Shimbun Sya pada tanggal 16 Agustus malam memberitahukan kepada saja bahwa keesokan hari tanggal 17 Agustus 1945 akan dilakukan 'Proklamasi Kemerdekaan Indonesia' bertempat di rumah kediaman Bung Karno. Dalam keraguan sayapun berangkat jam 5 pagi menuju ke Pegangsaan Timur bersama rekan saya Saudara Basir Pulungan dengan mengendarai mobil yang saya pinjam dari rekan wartawan Jepang tersebut.''
''Gemuruh sorakan 'Hidup' dan 'Indonesia Merdeka Sekarang' memecah telinga ketika jam menunjukkan pukul 9.50 pada saat mana Dwitunggal Bung Karno/Hatta dengan diiringi tokoh-tokoh lainnya keluar dari ruangan perundingan menuju ke ruang depan tempat upacara , dimana telah tersedia alat pengeras suara.''
''Pecahlah bisul perayaan yang tertekan selama ini, bagai halilintar menderu terdengarlah seruan 'MERDEKA - MERDEKA' - terus menerus dan dengan tertib berhenti ketika mendengar aba-aba dari Dr Muwardi Bersi...... ap! Semua hadirin tegak, menanti pengumuman selanjutnya.''
Frans meninggal Juni 1971 di Jakarta dan dikubur di TPU Karet. Alex meninggal Desember 1985 dan dikubur di TPU Pandu, Bandung.
''Kuburan Frans sudah ditiban. Sampai sekarang anaknya masih mencari kubur Frans,'' kata Pierre. Menurut keluarga, keduanya meninggal
Tugu Pers Mendur

Mereka pro-Republik'
Oscar Motuloh menyebut kakak-beradik Mendur sebagai orang-orang pro-Republik. Alex sang kakak punya pengalaman bekerja di sejumlah majalah berita bergambar Belanda tahun 1930-an, sehingga punya latar belakang wartawan foto yang kuat.
''Waktu Indonesia mulai bergerak muncul gerakan-gerakan menuju 1945, mereka sudah terlibat di sejumlah koran-koran di bawah pendudukan Jepang,'' kata dia. ''Sesudah kemerdekaan mereka bergabung dengan Harian Merdeka. Baru Oktober 1946 mereka bikin kantor berita foto IPPHOS,'' Oscar menguraikan.
Setelah keluar dari Harian Merdeka, Mendur bersaudara terlibat dalam perjalanan kabinet pertama dan pemerintah awal. Sekitar tahun 1995, foto-foto mereka diambil alih oleh Divisi Pemberitaan Foto Kantor Berita Antara. ''Jadi sekarang, foto-foto IPPHOS dari peristiwa penting 1945 sampai peristiwa 1966 dan peristiwa Malari 1974 ada di Kantor Berita Antara.''
Kalau melihat kualitas, kata Oscar, Mendur bersaudara bersama IPPHOS memang punya peran menyampaikan foto-foto yang dibutuhkan sebagai pencitraan republik baru ini. ''Mereka bukan fotografer istana. Mereka bekerja secara profesional, cuma mereka tentu punya subjektivitas untuk mendorong karena mereka berada di pihak republik.''
Gelar Pahlawan Nasional
Sampai hari ini, keluarga Mendur terus menunggu gelar Pahlawan Nasional disandang oleh kedua wartawan foto tersebut.
''Sudah pernah mendapat bintang jasa di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Masuk daftar pahlawan nasional juga, tapi sampai sekarang belum dapat panggilan. Keluarga menunggu,'' kata Pierre Mendur.
Oscar sependapat keduanya 'sangat pantas' menyandang gelar pahlawan nasional. Mereka berjuang 'menyelamatkan identitas keberadaan Indonesia'.
''Visual karya keduanya membuktikan peristiwa itu pernah terjadi, secara 'seeing is believing'. Istilahnya no pix hoax lah. Mereka yang menyelamatkan identitas keberadaan Indonesia,'' kata Oscar.
Dia juga mengutip tulisan sejarawan Asvi Warman Adam dalam pameran karya Mendur Bersaudara yang mengatakan, ''Coba bayangkan seandainya Mendur bersaudara itu tidak hadir pada Proklamasi, apakah kita bisa mengaku bahwa Indonesia pernah memproklamasikan itu?''
Kalau ada yang tercecer di luar foto Proklamasi yang umum? Menurut Oscar, pemerintah Indonesia perlu mencari. Demikian BBC